

DEMOCRAZY.ID – Rencana Amerika Serikat (AS) menjadikan Indonesia sebagai pusat pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO) pesawat angkut militer C-130 Hercules di kawasan Asia memunculkan kekhawatiran serius di tengah memanasnya persaingan geopolitik global.
Di balik tawaran investasi, transfer teknologi, dan peluang ekonomi yang tampak menguntungkan, sejumlah kalangan melihat adanya potensi ancaman strategis terhadap kedaulatan Indonesia.
Kekhawatiran itu disampaikan pengamat sosial, ekonomi, dan keagamaan, sekaligus Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas.
Menurut Buya Anwar Abbas, pemerintah harus berhati-hati karena proyek tersebut bukan sekadar kerja sama teknis aviasi militer biasa, melainkan berpotensi menyeret Indonesia ke pusaran konflik global.
Ia menilai, rencana menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat bengkel pesawat militer Hercules AS di Asia dapat memunculkan masalah besar, baik di dalam negeri maupun dalam hubungan internasional Indonesia.
“Rencana AS ini harus disikapi pemerintah Indonesia dengan hati-hati karena hal tersebut jelas akan menimbulkan banyak masalah baik di dalam maupun di luar negeri,” ujarnya.
Buya Anwar Abbas mengingatkan proyek tersebut berpotensi bertabrakan dengan prinsip dasar politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia.
Menurutnya, Indonesia selama puluhan tahun dikenal sebagai negara nonblok yang menjaga jarak dari pertarungan kepentingan negara-negara besar.
Karena itu, keterlibatan terlalu jauh dalam proyek strategis militer Amerika Serikat dinilai dapat merusak posisi tersebut.
“Di dalam negeri tentu banyak pihak yang akan mempersoalkannya karena dilihat dari perspektif konstitusi kehadiran proyek tersebut jelas akan menyenggol prinsip dasar politik luar negeri bebas aktif seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945,” katanya.
Buya Anwar Abbas juga mengigatkan kemungkinan berubahnya orientasi geopolitik Indonesia secara perlahan melalui jalur kerja sama teknologi pertahanan tersebut.
Dalam banyak kasus internasional, kerja sama logistik dan perawatan militer sering menjadi pintu masuk pengaruh politik dan keamanan negara besar terhadap negara mitra.
Kekhawatiran paling serius muncul ketika Buya Anwar Abbas menyinggung potensi transformasi Bandara Kertajati menjadi pangkalan militer Amerika Serikat di masa depan.
Menurutnya, dengan kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang dimiliki Washington, proyek MRO tersebut bisa berkembang melampaui fungsi awalnya.
“Di samping itu melihat sikap dan perilaku politik AS selama ini maka tidak mustahil proyek ini dengan bermodalkan wewenang dan legalitas yang ada, lewat kekuatan ekonomi dan politik serta militer yang mereka miliki, bandara Kertajati bisa bertransformasi menjadi pangkalan militer,” ujarnya.
Ia menilai, apabila skenario tersebut terjadi, Indonesia akan menghadapi posisi sulit karena keterikatan ekonomi dan politik yang terlanjur terbentuk.
“Bila itu yang terjadi maka akan sangat sulit bagi Indonesia untuk menghentikannya karena berbagai risiko dan konsekuensi akan membentang di depan kita apalagi jika mereka sudah berhasil pula menempatkan orang-orangnya di berbagai tempat dan pos penting di negeri ini,” katanya.
Pernyataan itu menjadi perhatian penting di tengah meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dengan China, Rusia, Iran, dan sejumlah kekuatan global lain di kawasan Indo-Pasifik.
Buya Anwar Abbas juga mengingatkan risiko internasional yang dapat muncul apabila Indonesia dianggap terlalu dekat dengan kepentingan strategis Amerika Serikat.
Selama ini Indonesia dikenal aktif memainkan peran diplomasi damai dalam berbagai isu internasional, termasuk konflik Palestina dan dunia Islam.
Namun citra tersebut bisa berubah jika Indonesia dipersepsikan sebagai bagian dari orbit pertahanan Washington.
“Begitu juga dalam pergaulan internasional, Indonesia tentu akan menghadapi banyak masalah karena citra dan jati diri kita sebagai negara yang menjunjung tinggi politik luar negeri bebas aktif tentu akan rusak, sehingga Indonesia tidak lagi akan dipercaya sebagai penengah dalam berbagai konflik yang terjadi karena Indonesia sudah dianggap sebagai perpanjangan tangan dari Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia bahkan memperingatkan kemungkinan Indonesia menjadi sasaran dalam konflik global jika perang besar melibatkan Amerika Serikat pecah sewaktu-waktu.
“Dan yang lebih parah lagi jika terjadi konflik antara Amerika Serikat dengan negara-negara tertentu maka tidak mustahil Indonesia akan menjadi target potensial bagi musuh-musuh negara Paman Sam tersebut sehingga negeri ini tidak lagi aman karena sudah terseret dan diseret oleh AS ke dalam kancah peperangan yang ada,” katanya.
Meski mengakui proyek tersebut memiliki potensi keuntungan ekonomi dan teknologi, Buya Anwar Abbas menilai risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar dibanding manfaatnya.
“Jadi kesimpulannya meskipun proyek ini secara ekonomi dan teknologi akan mendatangkan keuntungan bagi Indonesia tapi bila ditimbang-timbang antara maslahat dan mafsadatnya maka mafsadatnya jelas akan jauh lebih besar daripada maslahatnya,” pungkasnya.
Sumber: Inilah