Gus Hilmi Semprot Abu Janda Buntut Potongan Video Viral JK: Minim Ilmu Tapi Ngomong Seenaknya!

DEMOCRAZY.ID – Perdebatan publik terkait potongan ceramah Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, terus bergulir di media sosial.

Sejumlah tokoh ikut angkat bicara, termasuk pegiat medsos Permadi Arya dan cendekiawan NU Gus Hilmi Firdausi.

Polemik ini berkembang setelah muncul beragam tafsir atas pernyataan yang dinilai menyentuh isu sensitif antaragama.

Permadi Arya atau Abu Janda menilai penting memahami pilihan kata dalam ceramah tersebut sebelum menarik kesimpulan.

“Kita pahami dulu diksi atau pilihan katanya ya, Pak Jusuf Kalla mengatakan Islam dan Kristen berpendapat. Islam dan Kristen berpendapat,” ujar Abu Janda, Selasa (14/4/2026).

Ia menegaskan bahwa pernyataan itu merujuk pada ajaran agama, bukan kepada pemeluknya.

“Pak Jusuf Kalla tidak mengatakan orang Islam dan orang Kristen. Jadi kita bisa asumsikan yang dimaksud Pak Jusuf Kalla adalah ajaran agamanya,” lanjutnya.

Bandingkan Ayat Al-Quran dan Injil

Abu Janda kemudian membandingkan isi kitab suci Islam dan Kristen terkait perlakuan terhadap musuh.

Ia mengutip sejumlah ayat dalam Al-Qur’an yang menurutnya berkaitan dengan perintah menghadapi musuh.

“Jadi Pak Jusuf Kalla benar, dalam kitab suci Al-Quran memang ada perintah untuk menewaskan musuh,” katanya.

Di sisi lain, ia juga menyebut ajaran dalam Injil yang menekankan kasih terhadap musuh.

“Ternyata di Alkitab Injil tidak ada perintah untuk menewaskan musuh, yang ada malah perintah untuk mengasihi musuh. Jadi pernyataan Pak Yusuf Kala soal Kristen ini salah,” tukasnya.

Gus Hilmi Kritik Cara Penafsiran

Menanggapi hal tersebut, Gus Hilmi Firdausi memberikan respons kritis terhadap cara pengambilan dalil yang disampaikan Abu Janda.

“Tadinya saya mau menjawab video Abu Janda tentang ceramah Pak JK yang dia anggap menistakan agama,” ucap Gus Hilmi.

Ia menegaskan bahwa kutipan ayat-ayat tersebut tidak disertai penjelasan konteks yang utuh.

“Dia mengutip surat Muhammad ayat 4 dan Al Baqarah ayat 191 yang merupakan ayat-ayat perang untuk memframing bahwa Islam itu agama kekerasan lalu dibandingkan dengan kitab suci agama lain,” imbuhnya.

Dikatakan Gus Hilmi, pemahaman terhadap ayat suci tidak bisa dilepaskan dari latar belakang turunnya ayat.

“Duh orang ini, minim ilmu Quran dan tafsir tapi memotong beberapa ayat seenaknya tanpa menjelaskan apa maksud ayat tersebut dan asbabun nuzulnya. Tapi sudahlah, percuma,” tegasnya.

Imbauan Jaga Kerukunan

Di tengah polemik yang berkembang, Gus Hilmi mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi.

“Himbauan saya kepada seluruh saudara sebangsa, jangan mudah tersulut dan terprovokasi yaa,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa kehidupan antarumat beragama di Indonesia sejauh ini tetap berjalan harmonis.

“Semua damai, rukun, guyub inilah Indonesia, kita kuat karena saling menghargai perbedaan namun tetap satu tujuan. Bhineka Tunggal Ika,” tandasnya.

Sebelumnya, Juru bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, menjelaskan bahwa pernyataan tersebut tidak bisa dipahami secara terpisah dari konteks keseluruhan ceramah.

Dikatakan Husain, narasi yang berkembang di media sosial telah mengaburkan maksud sebenarnya dari pernyataan tersebut.

Penjelasan Soal Konteks Konflik

Husain menegaskan bahwa apa yang disampaikan Jusuf Kalla merujuk pada kondisi nyata di lapangan saat konflik sosial bernuansa agama terjadi.

“Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah,” ujar Husain dikutip fajar.co.id, Senin (13/4/2026).

Kata dia, Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun kelompok Kristen sama-sama menyerukan ‘perang suci’.

“(Mereka) mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid,” tukasnya.

Ditegaskan Husain, hal tersebut merupakan fakta sejarah, karena baik konflik Poso maupun Ambon disebut bernuansa SARA.

“Konflik yang saat itu menewaskan ribuan orang, bukan pendapat pribadi Pak JK,” tegasnya.

Ia menambahkan, pernyataan tersebut disampaikan dalam ceramah di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada pada Kamis (5/3/2026).

Bukan Soal Teologi, tapi Meluruskan

Husain menekankan, Jusuf Kalla tidak sedang membahas ajaran agama, melainkan menjelaskan latar belakang konflik yang pernah terjadi.

Ia menyebut ceramah tersebut justru bertujuan untuk meluruskan pemahaman yang keliru di tengah masyarakat.

“Karena apa yang dilakukan pihak pihak yang bertikai sudah melampaui batas kemanusiaan. Membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua,” Husain menuturkan.

“Perbuatan yang jelas melanggar nilai-nilai cinta kasih. Artinya, Pak JK justru meluruskan pemahaman keliru ini,” tambahnya.

Menurutnya, dalam berbagai kesempatan Jusuf Kalla juga menekankan bahwa tindakan kekerasan tersebut bukanlah perang suci dan tidak dapat dibenarkan.

Peran dalam Perdamaian Malino

Lebih lanjut, Husain menyampaikan bahwa kritik terhadap klaim ‘syahid’ dalam konflik tersebut justru menjadi bagian dari upaya mendorong perdamaian.

Konflik Poso dan Ambon yang terjadi sekitar 27 tahun lalu menelan banyak korban jiwa.

Upaya penyelesaiannya dilakukan melalui Perundingan Malino I (2001) dan Malino II (2002).

Kesepakatan damai yang dihasilkan dikenal sebagai Deklarasi Malino, yang dimediasi langsung oleh Jusuf Kalla dan menjadi titik penting berakhirnya konflik tersebut.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya