DEMOCRAZY.ID – Nama tokoh nasional masuk dalam file terkait penjahat seksual Amerika Serikat (AS) Jeffrey Epstein.
Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com di situs Departemen Kehakiman AS (DOJ) pada Senin (2/2/2026), nama konglomerat Hary Tanoesoedibjo dan pendiri Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja masuk dalam Eipstein Files.
Namun, dalam keterangan yang tertulis dalam laporan tersebut, Harry dan Eka tidak terkait langsung dengan Epstein.
Hary hanya disebut terlibat dalam pengembangan hotel-hotel milik Presiden AS Donald Trump di Indonesia.
Diketahui Hary dan Trump memang bekerjasama dalam proyek bernama Trump Residences Indonesia yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat dan Bali.
Kerjasama tersebut sudah terjalin sejak tahun 2015 lalu.
Lalu, Hary juga disebut memperkenalkan Trump kepada ‘orang CIA Indonesia’ yang diduga adalah anggota Badan Intelijen Negara (BIN). Namun tidak disebutkan nama dari orang tersebut.
“Hary Tanoesodibjo telah terlibat dalam pengembangan hotel-hotel Trump dan (Hary) merupakan seorang miliarder. Hary memperkenalkannya kepada orang CIA Indonesia,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Selain itu, Hary juga disebutkan membeli kediaman Trump di kawasan Beverly Hills, California, AS dengan ‘harga yang dibesar-besarkan’.
Mantan Ketua Umum Partai Perindo itu juga mengatakan kepada Trump akan ‘menghancurkan Amazon’ terkait kontrak militer mereka.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut maksud dari pernyataan Hary kepada Trump tersebut.
Sementara, nama pendiri Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja tercantum dalam file Eipstein tersebut terkait penjualan mansion milik Trump di Beverly Hills pada tahun 2009 lalu.
Adapun properti Trump itu dibeli seharga 9,5 juta dolar AS. Sementara Eka disebut berkaitan dengan entitas dari Swiss di mana sebagai pembeli dari kediaman Trump tersebut.
Ada dugaan entitas yang dimaksud merupakan perusahaan cangkang milik Eka Widjaja.
“Pada musim panas 2009, dia (Trump) menjual rumah tersebut seharga 9,5 juta dolar AS – 800.000 dolar AS lebih rendah dari harga tahun sebelumnya – kepada entitas Swiss yang terkait dengan keluarga Eka Widjaja, seorang miliarder pengusaha keuangan Indonesia.”
“Penjualan dilakukan secara tunai. Mantan pengacara Trump, Michael Cohen, mengajukan dokumen hukum untuk perusahaan cangkang yang terlibat dalam pembelian masnion tersebut dan ia menandatangani akta jual beli saat Trump menjual properti tersebut,” demikian isi dari file tersebut.
Di sisi lain, nama-nama tokoh Tanah Air seperti Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan eks Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani turut tertulis dalam file milik Eipstein.
Namun, hanya berkaitan dengan pemberitaan alih-alih memiliki hubungan dengan Epstein.
Lalu, ada pula nama Presiden kedua RI Soeharto yang tercantum dalam file tersebut.
Senada, sosok Soeharto tidak berkaitan langsung dengan Epstein. Namanya tercantum karena ada usulan buku terkait Soeharto dari seseorang bernama Gregory Brown kepada Eipstein.
Nama Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim turut tertulis dalam file Epstein.
Namun, Anwar telah membantah memiliki kaitan dengan sang predator seksual tersebut.
“Hari ini saya baru mengetahui ada pihak luar yang ingin bertemu dan ‘mencatut’ nama saya dalam email yang terkait dengan kasus Epstein,” tulis Anwar dalam unggahan di akun Facebook pribadinya, dikutip dari CNA.
“Alhamdulillah sebagaimana disebutkan dalam email itu, kejadiannya sudah lebih dari satu dekade lalu, dan saya sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan pihak-pihak yang saling berkirim email itu, terutama Epstein,” sambungnya.
Adapun Anwar terseret dalam materi terkait Epstein setelah adanya cuplikan email pda 21 Februari 2012 di mana seorang rekan Epstein yang identitasnya dirahasiakan mempertanyakan perlunya pertemuan dengannya dan ‘Jes’.
Pertemuan itu dilakukan untuk membahas potensi keuntungan bagi JPM, merujuk pada JPMorgan Chase dan Jes Stanley yang saat itu menjabat CEO bank investasinya.
“Perlukah kita mengatur pertemuan pribadi untuk Jes dengan Anwar? Jika ia menjadi perdana menteri Malaysia, ia akan membereskan banyak hal dan bisa menjadi tambang emas bagi JPM,” tulis rekan Epstein itu, yang namanya disamarkan oleh Departemen Kehakiman.
“Saya mengenal Anwar dengan baik, selalu dekat dengannya selama bertahun-tahun meski banyak yang mengatakan ia sudah tamat dan tak mungkin kembali. Sekarang tampak berbeda,” lanjutnya.
Lalu Epstein membalasnya dengan menyarankan pertemuan pada Mei di tahun yang sama untuk menanyakan perjalanan Anwar ke AS atau Eropa serta mengusulkan agar peluan pembuatan film Hollywood dijadikan daya tarik.
“Kamu bisa mengatakan kepadanya bahwa Woody Allen bersama saya di Paris, dan banyak negara menawarkan dana agar ia membuat film di negara mereka,” ujarnya.
Sumber: Tribun