DEMOCRAZY.ID – Media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya video CCTV yang memperllihatkan dugaan kekerasan pada anak di salah satu lembaga penitipan anak (daycare) di Banda Aceh, Daycare Baby Preneur.
Kasus ini mendadak jadi sorotan publik karena kekerasan yang dilakukan sangat tidak manusiawi, aksi itu dilakukan oleh pengasuh di Daycare tersebut.
Dalam potongan video CCTV yang beredar, terlihat seorang pengasuh tengah menyuapi makanan kepada seorang bayi perempuan berusia 18 bulan.
Namun, di tengah aktivitas tersebut, pengasuh diduga melakukan tindakan kekerasan berupa menjewer telinga, menepis wajah, hingga membanting korban.
Kejadian ini terungkap sudah dua kali, yakni pada tanggal 24 dan 27 April 2026.
Kasus ini mencuat setelah insting orang tua yang merasa curiga berujung pada penemuan rekaman kekerasan CCTV yang mengejutkan pada Senin, 27 April 2026.
Zulfandi, orangtua yang ikut menitipkan anak di Daycare tersebut lewat akun Instagramnya mengungkap awal mula terbongkarnya dugaan kekerasan ini.
Menurutnya, kejadian ini bermula ketika pihak pimpinan daycare secara mendadak mengumumkan pemecatan salah satu oknum pengasuh secara tidak hormat pada Senin malam pukul 20.30 WIB.
Meski pimpinan daycare mengambil langkah tegas, pengumuman tersebut justru memicu rasa penasaran para orang tua mengenai alasan sebenarnya di balik pemecatan diam-diam tersebut.
“Setelah informasi pemecatan itu, kami tanya sama anak kami (A, inisial), ‘ada kejadian apa di sekolah?’. Anak kami A menjawab polos, ‘tadi bunda (pengasuh) marahin adek (R, inisial) dan ditampar’. Awalnya kami pikir dia berbohong,” ujar Zulfandi, orang tua dari A, di Instagramnya, Rabu (29/4/2026).
Berbekal pengakuan polos sang balita, Zulfandi dan istrinya kemudian memeriksa rekaman CCTV tersebut pada jam makan pagi tanggal 27 April.
“Kami langsung keluar jiwa intelijen, saya dan istri langsung cek CCTV beberapa hari setelah pemecatan, karena yang bisa akses CCTV adalah orang tua wali. Allah langsung menunjukkan video yang viral tanggal 27 April 2026,” ungkapnya.
Saat meilihat video tersebut, sang istri ibu dari (A) menangis histeris, terlihat aksi kekerasan fisik dalam rekaman CCTV.
“Karena videonya banyak, kami bisa cek dan nonton ulang. Ketika kami nonton video yang pemukulan itu terkejut dan ummanya (Ibu A) langsung nangis,” timpal Zulfandi.
Tak lama setelah itu, Zulfandi langsung membuat group WhatsApp khusus untuk orang tua wali yang ikut menintipkan anaknya di Daycare.
Dalam group itu, mereka langsung share bukti CCTV dan membahas langkah apa yang akan diambil.
“Di group kami diskusi masalah ini sampai salah satu orang tua wali chat pimpinan untuk tindak tegas pelaku, tapi tiba-tiba orang tua dan pelaku sudah jumpa dan berdebat sore waktu penjemputan kalau kami lihat CCTV,” sambungnya.
Para orang tua menegaskan tidak ada kata damai dalam kasus ini, terutama mengingat perjuangan orang tua korban yang sudah lama menantikan kehadiran sang buah hati.
“Semua orang tua wali gak boleh damai apalagi (R, koran) sudah lama menunggu. Terus tiba-tiba besoknya udah viral. Karena yakin keluarga masing-masing orang tua wali semua kirim ke group keluarga besar,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, terkait dengan kekerasan terhadap bayi, pihak tempat penitipan anak Babypreneur Day Care, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh telah mengambil tindakan.
Pihak pengelola daycare telah mengambil langkah tegas dengan memberhentikan pengasuh yang diduga melakukan kekerasan, DS (24).
Tidak hanya itu, dua pengasuh lain yang berada di lokasi saat kejadian juga turut diberhentikan.
Pihak yayasan menilai dua pengasuh lainnya lalai dalam menjalankan kewajiban pengawasan.
Hal itu disampaikan oleh Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan (TKPP), Sulthan Muhammad Yus yang membacakan pernyataan Pemko Banda Aceh dalam konferensi pers, di Balai Kota Banda Aceh, tadi malam, Selasa (28/4/2026).
Diketahui, kasus kekerasan terhadap anak menggemparkan warga Banda Aceh setelah sebuah video yang memperlihatkan dugaan penganiayaan bayi di tempat penitipan anak beredar luas di media sosial, Selasa (27/4/2026).
Peristiwa tersebut terjadi di di Babypreneur Day Care, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Dalam cepat video itu viral dan langsung memicu kecaman publik.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang pengasuh tengah menyuapi makanan kepada seorang bayi perempuan berusia 18 bulan.
Namun, di tengah aktivitas tersebut, pengasuh diduga melakukan tindakan kekerasan berupa menjewer telinga, menepis wajah, hingga membanting korban.
Kejadian ini terungkap sudah dua kali, yakni pada tanggal 24 dan 27 April 2026.
Saat ini pihak kepolisan dari Polresta banda Aceh juga sudah turun melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.
Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah Mukhlis mengatakan, Pemko Banda Aceh sangat prihatin atas kejadian tersebut dan akan memastikan jika peristiwa itu akan jadi yang terakhir kalinya di Banda Aceh.
“Day care yang bermasalah ini akan kita tutup dan kita juga akan meningkatkan pengawasan terhadap day care lainnya yang ada di banda aceh, agar sesuai dengan SOP,” ujar Afdhal.
“Kita akan menindak tegas sampai tuntas, tidak ada hal yang kita tutupi. Kita juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian, karena berkaitan dengan pidana nanti akan backup oleh kepolisian,” ujar Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah Mukhlis di balai kota, tadi malam, Selasa (28/4/2026).
Sumber: Tribun