DEMOCRAZY.ID – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR yang menyeret nama Taufik Hidayat terus memunculkan fakta-fakta baru.
Jika sebelumnya perhatian publik tertuju pada kondisi korban yang mengalami luka berat dan trauma mendalam, kini sorotan mulai mengarah pada masa lalu tersangka.
Sejumlah keterangan dari perangkat desa, tetangga, hingga keluarga mengungkap bahwa perilaku bermasalah Taufik Hidayat disebut bukan hal yang baru.
Bahkan, jauh sebelum kasus yang kini ramai diperbincangkan, ia disebut pernah terlibat berbagai persoalan hukum dan konflik dengan orang-orang di sekitarnya.
Berikut sejumlah fakta yang terungkap mengenai rekam jejak Taufik Hidayat berdasarkan kesaksian orang-orang yang mengenalnya sejak lama.
Kepala Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Kusnaedi, mengaku mengenal Taufik Hidayat sejak lama.
Menurutnya, sekitar satu dekade lalu Taufik pernah tersandung kasus hukum yang berujung penahanan.
Kusnaedi bahkan mengaku ikut mengurus persoalan tersebut ketika Taufik berhadapan dengan aparat penegak hukum.
“Pernah ditahan kasus penganiayaan dan penggelapan motor, saya yang ngurusin. Motor orang Garut. Pernah ditahan di Polres Rancaekek, divonis 1,5 tahun dipenjara,” ujarnya yang dikutip dari VIVA pada Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut Kusnaedi, Taufik dikenal memiliki karakter keras sejak usia muda.
Ia menilai berbagai konflik yang pernah terjadi tidak muncul secara tiba-tiba.
Bahkan, Taufik disebut kerap terlibat perselisihan dengan lingkungan sekitar.
Dalam pandangan Kusnaedi, salah satu faktor yang memengaruhi perilaku tersebut adalah pola pengasuhan yang terlalu memanjakan dirinya saat kecil.
“Kalau ribut sama tetangga suka dibela ayahnya, jadi kesayangan,” kata Kusnaedi.
Fakta lain yang mengejutkan datang dari ayah kandung Taufik sendiri, Tata. Ia mengaku pernah menjadi korban amarah anaknya.
Menurut pengakuannya, peristiwa itu terjadi ketika Taufik kesal karena tidak menemukan makanan di rumah.
“Saya pernah dipukul kepala pakai kayu. Waktu itu saya lagi macul di sawah, dia di rumah lagi nganggur, mau makan gak ada apa-apa,” tutur Tata.
Tata menceritakan bahwa saat itu dirinya sedang bekerja di sawah ketika Taufik datang dan langsung menyerangnya.
“Dia datang ke sawah, langsung mukul, ngagebru (jatuh). Untung saya ada temen dua, mau mukul lagi dihalangin,” katanya.
Setelah kejadian tersebut, Taufik disebut meninggalkan rumah selama beberapa hari. Menurut Tata, anaknya baru kembali sekitar satu minggu kemudian dan meminta maaf atas tindakannya.
“Dia pergi kabur, gak balik lagi ke rumah. Kabur seminggu, datang lagi, minta maaf sambil nangis. Kapoekan (khilaf) katanya,” ujar Tata.
Selain membahas Taufik, Kusnaedi juga mengungkap kondisi keluarga yang menurutnya diwarnai berbagai persoalan.
Ia mengatakan ibu Taufik mengalami tekanan mental yang berat sebelum meninggal dunia. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh berbagai masalah yang melibatkan anak-anaknya.
Kusnaedi menyebut salah satu kakak laki-laki Taufik sering terlibat konflik dan memiliki kehidupan rumah tangga yang bermasalah.
“Yang kedua suka mabok, kerja juga dipecat. Punya istri sudah dua kali cerai, anak satu, sering ancam orang berkelahi,” ujarnya.
Sementara adik bungsu Taufik disebut meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan.
“Yang bungsu meninggal karena over dosis, minum obat-obatan sampai meninggal dunia,” kata Kusnaedi.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut memberikan tekanan psikologis yang sangat besar kepada ibu Taufik.
“Ibunya stres, setahun ampleung-ampleungan (jalan kaki ke sana ke mari),” ungkapnya.
Ia juga mengaku sang ibu lebih banyak mengurung diri dan enggan menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Istrinya gak mau dibawa diperiksa, di rumah diem, gak ngomong, lalu ada kesempatan keluar, jalan terus,” katanya.
Sumber: VIVA