DEMOCRAZY.ID – Peluang duet Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka kembali maju bersama pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 dinilai masih sangat terbuka.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, mengatakan arah koalisi untuk Pilpres 2029 memang belum terbaca secara jelas.
Namun, sejumlah manuver politik belakangan mengindikasikan kemungkinan keberlanjutan pasangan tersebut.
Menurut Dedi, deklarasi Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang akan berkeliling Indonesia bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berpotensi menjadi bagian dari agenda politik yang turut memperkuat posisi Gibran menjelang kontestasi politik mendatang.
“Koalisi untuk Pilpres belum terbaca arahnya, tetapi peluang Prabowo kembali bersama Gibran sangat terbuka, terlebih Jokowi sudah deklarasi untuk keliling Indonesia bersama PSI,” kata Dedi kepada Suara.com, Kamis (25/6/2026).
Ia menilai upaya memajukan Gibran pada Pilpres 2029 akan sulit dilakukan tanpa dukungan Prabowo.
Apalagi, kepentingan politik Jokowi saat ini, diyakini Dedi, masih sangat mungkin diarahkan untuk menjaga kesinambungan hubungan politik antara Prabowo dan Gibran.
“Memajukan Gibran tanpa Prabowo jelas belum memungkinkan, sehingga tawaran Jokowi tentu membersamai Prabowo kembali,” ujarnya.
Dedi juga memperkirakan partai-partai yang selama ini berada dalam barisan pendukung Prabowo dan Jokowi akan tetap solid mengikuti keputusan politik yang diambil Prabowo.
Meski demikian, ia melihat masih ada peluang munculnya poros alternatif yang dibangun sejumlah partai di luar dominasi koalisi pemerintahan saat ini.
“Sementara partai lain yang selama ini bersama Prabowo dan Jokowi besar kemungkinan tetap akan solid dan mengikuti keputusan Prabowo,” tuturnya.
Partai-partai seperti NasDem, Demokrat, PKS, dan PKB masih memiliki ruang untuk membangun poros politik tersendiri menjelang Pilpres 2029.
Namun, kekuatan poros tersebut akan sangat bergantung pada dinamika politik nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Disampaikan Dedi, langkah Jokowi saat ini bukan bertujuan meningkatkan popularitas Gibran, mengingat tingkat pengenalan publik terhadap putra sulungnya itu sudah cukup tinggi.
Namun, yang sedang dilakukan Jokowi, kata dia, lebih mengarah pada konsolidasi dan mobilisasi dukungan politik.
“Jokowi sebetulnya tidak sedang mempopulerkan Gibran, karena popularitasnya sudah tinggi, Jokowi sedang lakukan konsolidasi dan mobilisasi,” tandasnya.
Dengan pengaruh populisme yang masih dimiliki Jokowi, Dedi menilai mantan presiden itu masih memiliki peluang mengarahkan pemilih agar tetap mendukung Gibran pada pemilu mendatang.
Oleh sebab itu, partai-partai politik lain perlu mencermati perkembangan tersebut meski tidak ada alasan untuk merasa cemburu terhadap manuver politik Jokowi.
“Tidak ada alasan bagi Parpol lain untuk cemburu, tetapi mereka perlu waspada, karena jika Jokowi berhasil membawa soliditas pemilih Gibran, maka parpol-parpol itu akan terpaksa bergantung pada Jokowi,” pungkasnya.
Sumber: Suara