Sinyal Perang Dingin? Mustahil Digandeng Lagi, Gibran Siap Lawan Prabowo di 2029!

DEMOCRAZY.ID – Panggung politik nasional mulai memanas jauh sebelum waktunya.

Riak-riak isu yang tadinya hanya menjadi bisik-bisik di lorong kekuasaan kini meledak ke permukaan: muncul dorongan kuat agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka maju sebagai calon presiden (Capres) pada Pilpres 2029, berhadapan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.

Fenomena ini bukan sekadar manuver biasa.

Pengamat politik melihatnya sebagai perpaduan antara kepercayaan diri yang melambung tinggi, sekaligus kepasrahan mendalam dari barisan pendukung setianya yang mencium aroma perpisahan politik di masa depan.

Rizal Fadillah Semprot Prabowo, Jokowi, dan Gibran Indonesia Kini Malah Tambah Gelap!

Keyakinan “Tanpa Jokowi, Prabowo Bukan Siapa-Siapa”

Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menyoroti bahwa dorongan tersebut lahir dari narasi superioritas yang dibangun oleh loyalis keluarga Jokowi.

Menurutnya, ada keyakinan absolut bahwa keberhasilan Prabowo menduduki kursi RI-1 tidak bisa dilepaskan dari “tuah” politik Jokowi yang kini direpresentasikan oleh sosok Gibran.

“Ini adalah bentuk kepercayaan diri yang sangat tinggi, sebuah keyakinan bahwa Prabowo tidak ada apa-apanya tanpa pengaruh Gibran atau Jokowi. Narasi yang mereka bangun cukup berani: Prabowo jadi Presiden karena Jokowi. Mereka mengklaim Jokowi dicintai rakyat, sementara Prabowo dianggap tidak memiliki keterikatan emosional yang sama dengan konstituen,” ujar Erizal dalam keterangannya.

Tiga Ruwet Indonesia 'Jokowi, Prabowo, dan Gibran'

Tanda-Tanda Keretakan: Peran yang Terpinggirkan?

Ketegangan di balik layar pemerintahan disinyalir semakin nyata.

Erizal mencermati adanya indikasi bahwa Prabowo tidak lagi memberikan ruang manuver yang luas bagi Wapres Gibran.

Indikasi ini diperkuat dengan narasi yang berkembang di ruang publik terkait isu-isu sensitif yang selama ini menempel pada keluarga Jokowi.

“Bukti retaknya harmoni ini terlihat dari penanganan kasus-kasus yang menyeret nama Jokowi. Isu ijazah yang terus bertele-tele, hingga tidak ditahannya tokoh-tokoh vokal seperti Roy Suryo dan Dokter Tifa, menjadi sinyal bahwa proteksi politik mulai mengendor. Pendukung Gibran kini melihat mustahil Prabowo akan kembali meminang Gibran untuk periode kedua,” tegas Erizal.

Gak Disangka! Presiden Prabowo Tegas Tolak Lindungi Jokowi dan Gibran dari Kasus Ijazah, Elite Politik Auto Kaget

Safari Politik: Strategi “Curi Start” di Tengah Kesepian

Lebih jauh, Erizal membedah lanskap politik nasional yang kini tampak mengepung posisi Prabowo.

Ia mengklaim bahwa sebenarnya bukan hanya kubu Prabowo yang ragu, melainkan hampir seluruh partai politik di parlemen saat ini enggan melihat duet Prabowo-Gibran berlanjut hingga dua periode.

Dalam kondisi yang semakin terisolasi, pihak Gibran dan Jokowi dianggap tidak memiliki pilihan lain selain melakukan “serangan fajar” politik secara masif.

Inilah yang menjelaskan mengapa safari politik atau blusukan ke pelosok negeri semakin intens dilakukan oleh Gibran dalam beberapa waktu terakhir.

“Bagi Gibran dan Jokowi, pilihan untuk bertahan hanya satu: melakukan kampanye lebih awal. Mereka harus membangun basis kekuatan sendiri sebelum mesin politik lawan benar-benar menutup pintu bagi mereka. Ini adalah langkah antisipatif sebelum mereka benar-benar tersingkir dari gelanggang 2029,” pungkas Erizal.

Apakah manuver ini akan berakhir sebagai aliansi yang langgeng, atau justru menjadi pembuka jalan bagi pertarungan terbuka antara “Guru” dan “Murid” di pilpres mendatang? Satu hal yang pasti, panasnya suhu politik 2029 telah dimulai dari sekarang.

Artikel terkait lainnya