Sentilan Pedas Ustadz Felix Siauw! Ungkap 3 Alasan Kenapa Tepung Singkong Pemadam Karhutla Disebut Bukan Solusi Tepat

DEMOCRAZY.ID — Pendakwah dan aktivis sosial Felix Siauw melayangkan kritik tajam terhadap wacana kebijakan pemerintah yang mewacanakan penggunaan tepung singkong sebagai media alternatif untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ia menilai gagasan tersebut tidak rasional, berpotensi memicu masalah baru, serta jauh dari standar penanganan bencana yang efektif.

Kritik tersebut disampaikan Felix menanggapi instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi di Sumatra Selatan pada akhir Agustus 2026 lalu, di mana muncul gagasan pemanfaatan tepung singkong skala massal untuk menanggulangi karhutla.

Berikut adalah tiga poin utama kritik Felix Siauw terkait wacana penggunaan tepung singkong untuk memadamkan karhutla:

1. Heran dan Pertanyakan Logika Bahan Bakar

Felix secara terbuka mengaku heran dengan munculnya ide pemanfaatan tepung singkong di tengah bencana kebakaran hutan.

Secara ilmiah dan fisik, ia mengingatkan bahwa tepung berbahan dasar singkong sejatinya merupakan zat organik yang justru dapat bertindak sebagai bahan bakar atau mudah terbakar jika disebarkan di titik api bersuhu tinggi.

“Kok muncul ide tepung singkong? Tepung singkong itu, justru bahan bakar,” kata Felix melalui kanal YouTube pribadinya, Kamis (3/9/2026).

2. Berisiko Timbulkan Masalah Baru yang Belum Tentu Berhasil

Ia menilai bahwa kebijakan tersebut tidak memperhitungkan kompleksitas operasional di lapangan.

Mengingat titik api karhutla yang kerap kali mencapai ratusan titik setiap harinya, rencana memproduksi dan mendistribusikan tepung singkong dinilai hanya akan menambah rantai birokrasi dan beban baru yang tidak efisien.

“Itu menimbulkan masalah baru, untuk mendirikan pabrik, sewa orang, penelitian, dan belum pasti berhasil,” ujarnya.

3. Pertanyakan Alasan Abaikan Penggunaan Air Konvensional

Felix membandingkan langkah kebijakan tersebut dengan standar operasional penanganan bencana di berbagai negara maju seperti di kawasan Eropa dan Amerika Serikat, yang secara konsisten mengandalkan air sebagai instrumen utama pemadaman.

Meskipun ia tidak menampik bahwa teknologi pemadam api ringan (APAR) kerap menggunakan bahan kimia berupa powder (bubuk) tertentu untuk skala terbatas, Indonesia dinilai memiliki keunggulan geografis berupa ketersediaan sumber daya air yang melimpah.

Menurutnya, alih-alih meriset bahan alternatif yang meragukan, pemerintah seharusnya fokus mengoptimalkan logistik dan infrastruktur pengangkutan air dari sungai-sungai terdekat menuju titik lokasi kebakaran.

“Orang Eropa, Amerika, dan negara dengan teknologi maju masih pakai air untuk memadamkan kebakaran hutan. Indonesia ada ide pakai tepung,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya