DEMOCRAZY.ID – Keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei masih misterius.
Sejak terpilih pada 8 Maret 2026 sebagai orang nomor satu di Iran, Mojtaba Khamenei hampir tak pernah muncul langsung di depan publik.
Namun demikian, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tahu keberadaan Mojtaba Khamenei.
Dalam sebuah wawancara dengan “Meet the Press” di NBC News, Minggu (7/6/2026), Trump mengatakan bersedia berbicara langsung dengan Mojtaba Khamenei.
Ini sekaligus mengisyaratkan bahwa intelijen AS mungkin sedang memantau pergerakannya secara cermat.
“Saya tidak ingin mengatakan apakah saya tahu di mana dia berada atau tidak,” kata Trump.
“Tetapi ada kemungkinan besar bahwa saya tahu.”
Trump menggambarkan kepemimpinan baru Iran di bawah Mojtaba Khamenei lebih pragmatis daripada sebelumnya.
Menurut dia Mojtaba Khamenei terlibat dalam diskusi tentang potensi kesepakatan antara AS dan Iran.
Mojtaba Khamenei tidak terlihat di depan umum sejak muncul laporan bahwa ia terluka selama serangan yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei.
Ketidakhadirannya di depan publik telah memicu spekulasi tentang kondisinya dan keberadaannya.
Ketika ditanya apakah ia akan berbicara langsung dengan Khamenei, Trump mengatakan terbuka terhadap gagasan tersebut.
“Saya akan melakukannya jika dia mau,” kata Trump.
Presiden AS juga membandingkan Mojtaba Khamenei secara positif dengan mendiang ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei .
“Lebih muda. Saya pikir lebih rasional,” kata Trump.
Dia juga mengklaim bahwa pemimpin Iran itu menderita luka serius tetapi tetap berperan dalam pengambilan keputusan.
“Terluka. Dia terluka cukup parah,” kata Trump.
“Jadi, ada keberanian tertentu di situ.”
Seorang penasihat senior Mojtaba Khamenei menepis kemungkinan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump.
“Ini tidak akan terjadi, saat ini kita berada di tahap pertama negosiasi dan Trump telah menghentikan negosiasi. Ini tidak akan terjadi,” kata Mohsen Rezaei, penasihat militer Khamenei.
Kemarin, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan menyerahkan “pesan tertulis” dari Perdana Menteri Shehbaz Sharif untuk Pemimpin Tertinggi Iran, demikian dilaporkan media pemerintah Iran pada hari Minggu.
Isi pesan tersebut tidak diungkapkan.
Para pejabat Pakistan mengatakan bahwa Islamabad telah bekerja sama dengan mitra regional seperti Qatar, Turki, dan Mesir untuk membantu mempersempit perbedaan antara AS dan Iran serta mendukung upaya diplomatik antara kedua negara.
Sumber: Tribun