DEMOCRAZY.ID – Peneliti dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, menyoroti kecenderungan Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kali pidato yang kerap mengaitkan isu dalam negeri dengan faktor luar negeri.
Menurut Made, ada tiga pola utama yang muncul dari cara Prabowo berbicara soal “asing” dan “luar negeri”.
Made menyebut Prabowo beberapa kali menyampaikan peringatan tentang adanya pihak luar yang tidak menginginkan Indonesia maju.
“Anda tentu tidak asing dengan suara serak menggelegar yang sering dia ucapkan, ‘Hai antek-antek asing!’ Barusan saja dia pidato bahwa ada negara lain yang tidak senang Indonesia maju. Indonesia negara kaya, tapi ada negara yang berusaha merampok kekayaan Indonesia habis-habisan,” ujar Made dikutip dari keterangan tertulisnya di Facebook, Selasa (14/7/2026).
Namun, ia mencatat Prabowo tidak pernah menyebut secara spesifik negara mana yang dimaksud.
“Sebab apa? Karena itu akan membuat krisis diplomatik dan krisis-krisis lain yang tidak perlu,” katanya.
Made menilai secara logika ekonomi, kebanyakan negara justru berkepentingan agar Indonesia makmur agar dapat menjadi pasar.
“Kalau makmur, bisa beli produk mereka. Alias, mereka bisa berdagang dengan Indonesia,” ujarnya.
Dia menambahkan, dalam perdagangan berlaku timbal balik. “Perkara bahwa kita beli mahal dan jual murah, itu kan pinter-pinternya kita dagang.”
Pola kedua yang disorot adalah upaya menampilkan pengakuan dari negara lain terhadap program pemerintah.
Made mencontohkan klaim terkait pembangunan koperasi dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut mendapat apresiasi internasional.
“Ini adalah upaya mendapat pengakuan. Ini mirip seperti bujang-bujang yang mencari afirmasi,” kata Made.
Ia menyayangkan tidak pernah ada penyebutan eksplisit negara mana yang memberikan pujian tersebut.
“Misalnya, saat kunjungan PM India kemarin. Kan bisa dia sebutkan pada saat konferensi pers bersama, ‘PM Modi kagum dengan keberhasilan program MBG kita.’ Hal seperti itu tidak pernah kita dengar,” ujarnya.
Pola ketiga, menurut Made, adalah pernyataan Prabowo bahwa petani kini lebih sejahtera hingga bisa berlibur ke luar negeri.
“Ada yang libur ke luar negeri!” katanya, menirukan pernyataan Prabowo.
Made mempertanyakan data di balik pernyataan itu. Ia mencontohkan kondisi petani subsisten yang menurutnya masih menjadi mayoritas.
“Saya tidak tahu siapa yang membisiki Prabowo untuk soal petani ini. Sebab sebagian besar petani Indonesia adalah mereka yang hidup subsisten, artinya cukup untuk makan,” tambahnya.
Secara keseluruhan, Made menilai obsesi terhadap narasi luar negeri menunjukkan adanya kebutuhan afirmasi.
“Ada yang tidak beres di sini. Presiden kita ini agaknya sangat obsesif dengan luar negeri. Apa-apa dia kaitkan dengan luar negeri atau asing,” urai Made.
Semua obsesi Prabowo tentang luar negeri dan asing ini, kata dia, menyimpulkan satu hal, gampang sekali sebenarnya ‘mengakali’ dan menarik hati Presiden Prabowo.
“Dia orang yang butuh afirmasi,” katanya.
Menurutnya, pemimpin dengan karakter seperti itu cenderung menghindari kritik dan lebih membutuhkan lingkaran yang memberi dukungan.
“Seorang pemimpin yang butuh afirmasi terus menerus tidak membutuhkan orang-orang yang berpikiran rasional, waras, cerdas, atau yang punya keahlian teknokratik. Yang dia butuhkan adalah orang-orang yang memberi afirmasi,” ujarnya.
Made juga menyinggung dinamika internal kabinet.
Ia menilai ketika terjadi konflik antarpejabat, responsnya tidak berupa pemecatan melainkan imbauan introspeksi.
“Karena mereka-mereka itulah yang selama ini menjilat-jilat dengan ganasnya,” katanya.
Terkait program pemerintah, Made menyinggung kasus di Badan Gizi Nasional (BGN) dan isu di Kantor Komunikasi Kepresidenan (KDMP).
“Setelah kasus korupsi di BGN itu, dia tidak pernah lagi omong soal ini. Mungkin kalau kasus mega-korupsi di KDMP nanti terbongkar, dia akan cari alasan lain,” ujarnya.
Made menutup dengan mengingatkan bahwa narasi luar negeri bisa dimanfaatkan aktor global dalam berdiplomasi dengan Indonesia.
“Saya kira bahkan para politisi di luar negeri tahu itu. Kalau mereka membutuhkan sesuatu dari Indonesia, mereka cukup memberikan afirmasi kepada pemimpinnya,” kata Made.
Sebelumnya diberitakan, Presiden Prabowo Subianto menyebutkan banyak petani yang bisa berlibur ke luar negeri seiring dengan tingkat kesejahteraan yang membaik.
Ini dia sampaikan dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026.
“Saya ingin lihat tampang-tampang koperasi ini. Muka-muka kalian, bukan muka orang yang bawa lari uang ke luar negeri,” kata Prabowo, Minggu (12/7/2026) lalu.
“Tapi enggak ada masalah, saya dapat laporan sekarang sudah banyak petani yang libur ke luar negeri. Enggak apa-apa, libur boleh. Kapan lagi petani libur ke luar negeri,” ujarnya.
Sumber: Fajar