DEMOCRAZY.ID – Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM kembali dibicarakan dalam peta politik menuju 2029.
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa, Tony Rosyid, menyebut tingginya elektabilitas KDM dalam sejumlah survei dapat dibaca sebagai munculnya figur yang memiliki karakter berbeda dari Presiden Prabowo Subianto.
Tony bahkan menyebut KDM berpotensi menjadi antitesis Prabowo.
Namun, ia mengingatkan bahwa sejumlah hasil survei yang disebutkannya belum dipublikasikan sehingga perlu ditelusuri dan diverifikasi kembali.
Tony mengatakan, dalam banyak survei, elektabilitas Dedi Mulyadi berada di atas 40 persen dan disebut masih meninggalkan sejumlah nama lain.
“Survei terakhir oleh salah satu lembaga survei, posisi Prabowo nomor tiga. Posisi pertama adalah Dedi Mulyadi. Kedua, Anies Baswedan. Ketiga, Prabowo. Survei tidak dipublish. Karena itu, hasilnya perlu ditelusuri dan dicek kembali kebenarannya,” ujar Tony, Rabu (30/9/2026).
Dijelaskan Tony, peningkatan elektabilitas KDM berjalan beriringan dengan penurunan angka Prabowo dalam survei yang ia rujuk.
“Dedi Mulyadi terus menggerus suara Prabowo. Keduanya memiliki pendukung yang beririsan. Indikasinya bisa dilihat dari elektabilitas keduanya. Dedi Mulyadi terus naik, dan Prabowo menurun. Selalu seperti itu,” ucap dia.
Sementara itu, Tony menilai elektabilitas Anies cenderung stagnan.
Ia mengaitkannya dengan minimnya panggung publik yang dimiliki Anies saat ini.
“Ini karena faktor Anies saat ini tidak memiliki panggung dan cenderung tidak banyak tampil ke publik,” tukasnya.
Tony menyebut KDM telah memimpin dalam sejumlah survei selama sekitar setahun terakhir.
“Satu-dua bulan terakhir, KDM tidak banyak tampil ke publik. Tidak seperti biasanya. Kontennya sudah jarang. Bahkan nyaris tidak terlihat,” imbuhnya.
Tony mengingatkan, KDM sebelumnya bahkan mendapat julukan ‘Gubernur konten’ dari Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, yang juga Ketua Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI).
Meski aktivitas konten KDM disebut berkurang, Tony mengatakan angka elektabilitasnya dalam survei yang ia rujuk masih tinggi.
“Ini tandanya pertama, publik masih menyimpan memori yang cukup kuat tentang KDM. Kedua, ada kemungkinan tim KDM yang piawai dalam merawat suara KDM,” jelasnya.
Tony kemudian mengutip pemikiran Guy Debord dalam buku The Society of the Spectacle.
“Dalam politik, tak ada yang alami. Semua ada modifikasinya. Dalam buku ‘The Society of The Spectacle’, Guy Debord, seorang sosiolog Perancis mengungkapkan adanya ‘spectacle’,” terangnya.
Kata Tony, konsep tersebut berkaitan dengan tampilan yang sengaja dibentuk untuk menciptakan kesan tertentu.
“Sebuah tontonan yang sengaja didesain untuk menciptakan kesan menarik. Itulah ‘appearing’ atau tampilan yang berproses menggantikan ‘being’ keaslian diri dan ‘having’ atau kepunyaan, kata Debord. Bahasa anak mudanya sekarang, pencitraan,” bebernya.
Ia juga mengaitkannya dengan konsep hiperrealitas yang dikemukakan Jean Baudrillard.
“Pencitraan umumnya cenderung hiperrealitas. Hiperrealitas, kata Jean Baudrillard, adalah kesan yang jauh melampai kenyataan yang sesungguhnya,” timpalnya.
Tony menekankan bahwa minimnya kemunculan KDM tidak serta-merta berarti aktivitas politiknya berhenti.
“KDM boleh diam, tapi tim tetap jalan. Diam atau disuruh diam? Itu bab lain lagi,” tegasnya.
Ia kemudian membandingkan elektabilitas KDM dengan sejumlah tokoh lain yang disebutnya dalam survei.
“Hingga saat ini, belum ada tokoh yang mampu menyaingi suara KDM. Dalam berbagai survei, elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ketum Partai Demokrat, masih satu digit. Gibran juga satu digit,” kata dia.
Tony juga menyebut nama Purbaya dan Pramono Anung dalam analisisnya.
Purbaya, kata Tony, meski ada momentum pemecatan, elektabiltasnya masih sama pada angka satu digit.
“Bahkan Gubernur DKI sekaligus kader PDIP Pramono Anung, dengan semua desain tampilan politiknya, namanya hampir nyaris terlewatkan dalam berbagai survei. Orang bilang gak nendang,” jelasnya.
Tony kemudian mengaitkan tingginya suara KDM dengan persepsi publik terhadap karakter kepemimpinan yang ditampilkannya.
“Suara KDM yang tinggi menunjukkan publik punya harapan kepadanya untuk memimpin negeri ini. KDM dianggap antitesis Prabowo,” tegas Tony.
Ia membandingkan latar belakang Prabowo dengan citra publik yang dibangun KDM.
“Prabowo berasal dari kelas elit. Seorang Jenderal, mantan komandan pasukan elit TNI dan mantan Pangkostrad. Prabowo anak menantu Soeharto, seorang presiden yang berkuasa selama 32 tahun,” Tony menuturkan.
“Gaya kepemimpinan yang elitis Prabowo melahirkan antitesis. Antitesis datang dari KDM. Dalam setiap kontennya, KDM terlihat dekat dengan rakyat,” tambahnya.
Tony menggambarkan KDM sebagai figur yang tampil dengan gaya sederhana dan dekat dengan masyarakat.
“Sederhana, bersahaja dan gaul. Komunikasinya cair, alami dan jauh dari kesan dipaksakan. Apa yang diperankan oleh KDM kontras dengan penampilan Prabowo yang formal,” ucapnya blak-blakan.
Namun, Tony menegaskan bahwa pembahasan tersebut lebih berkaitan dengan penampilan politik, bukan perbandingan program.
Lebih jauh, Tony mengatakan bahwa posisi KDM menarik karena berasal dari masyarakat biasa, kemudian masuk ke lingkaran elite politik, tetapi tetap mempertahankan citra kedekatan dengan rakyat.
“Mirip Jokowi di 2014. Setelah penguasa berada di tangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama 10 tahun, seorang perwira tinggi TNI dan menantu danjen pasukan elit RKPAD, yang sekarang berubah namanya menjadi Kopassus, muncul Jokowi. Walikota Solo yang tampil dan memainkan peran sebagai wong ndeso,” tandasnya.
Tony bilang, hukum tesis antitesis dengan berbagai modifikasinya dalam pangggung dan dunia politik.
“Apakah KDM betul-betul akan berhasil menjadi antitesis Prabowo di 2029? Kita tunggu bagaimana sejarah nanti akan mencatatnya,” kuncinya.