

DEMOCRAZY.ID – Salah satu tersangka dalam perkara dugaan penyebaran fitnah terkait ijazah Presiden ke-7 RI Jokowi, Rizal Fadillah, kembali bicara terkait prosesi adat saat penerimaan gelar kehormatan di Lampung.
Rizal mengaitkan ritual menginjak kepala kerbau yang dilakukan dalam prosesi tersebut dengan berbagai simbol dan mitologi yang menurutnya mengandung makna tertentu.
Ia mengaku masih teringat dengan prosesi adat yang memperlihatkan Jokowi menginjak kepala kerbau di atas hamparan karpet merah.
“Masih bergidig mengerikan membayangkan upacara adat di Lampung saat Jokowi menginjak kepala kerbau di atas hamparan karpet berwarna merah,” ujar Rizal, Minggu (5/7/2026).
Ia menyebut prosesi tersebut sebagai simbol yang memiliki banyak makna.”Simbolik multi makna yang menimbulkan kontroversi. Injakan kepala terus berbuntut,” ucapnya.
Rizal juga menyinggung rangkaian kunjungan Jokowi ke sejumlah daerah yang disebutnya sebagai bagian dari safari politik.
Ia mempertanyakan narasi bahwa kehadiran Jokowi merupakan respons atas undangan masyarakat.
“Awal buruk dari safari sang baginda yang bernarasi memenuhi undangan masyarakat. Sudah dapat diprediksi undangan asli tapi palsu. Penolakan masyarakat pun terjadi,” tukasnya.
Rizal kemudian menyinggung rencana kunjungan Jokowi ke sejumlah wilayah lain.
“Konon akan berlanjut berkeliling taman safari Jokowi ke NTT dan Jawa Barat. Seperti biasa agendanya menunggangi budaya bersama PSI,” sebutnya.
Bukan hanya itu, Rizal turut mengkritik anggapan bahwa Jokowi masih memperoleh sambutan luas dari masyarakat.
“Narsis merasa masih dicintai dan dielu-elukan rakyat padahal yang datang menyambut adalah para pecinta amplop,” timpalnya.
Ia bahkan mengibaratkan kondisi tersebut dengan kisah ‘raja telanjang’.
“Seperti kena jampi-jampi Jokowi yang sudah tamat merasa tetap eksis dan berkuasa. Raja itu jalan-jalan telanjang tetapi merasa berbaju tebal dan indah. Orang mentertawakan dianggap sedang bertepuk tangan,” sindirnya.
Rizal kemudian mengembangkan kritiknya dengan mengaitkan simbol kepala kerbau pada sejumlah kisah mitologi, mulai dari Yunani hingga cerita rakyat Nusantara.
“Kepala kerbau yang diinjak tiba-tiba berpindah ke kepala manusia, abracadabra. Mungkin seperti dalam mitologi Yunani manusia berkepala kerbau Minotaur yang buas senang memangsa manusia,” terangnya.
Selain itu, ia juga menghubungkannya dengan kisah Mahesa Sura atau Lembu Sura dalam cerita pewayangan dan mitos Gua Kiskendo di Kulon Progo.
Lebih jauh, ia menyebut mantan presiden tersebut tengah berupaya menjaga eksistensi politiknya sekaligus mengalihkan perhatian dari polemik ijazah.
“Jokowi kini merasa sehat dan kuat, percaya diri untuk mampu berlari cepat. Curi start namanya. Menunggangi apa yang bisa ditunggangi termasuk budaya,” tandasnya.
Rizal bilang, Jokowi ingin menyapa masyarakat demi momong anak cucu dan menghindari diri dari hiruk pikuk ijazah yang dituduh palsu.
“Kemarin injak kepala kerbau sekarang mengendalikan kerbau. Besok, abracadabra menjadi siluman kepala kerbau,” kuncinya.
Sumber: Fajar