DEMOCRAZY.ID – Dilansir dari Syria TV, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan bahwa sikap Israel yang saat ini tidak melakukan aksi militer besar di Suriah karena masih fokus pada perang dengan Iran, namun tidak berarti ancaman tersebut telah berakhir.
Fidan menyatakan bahwa serangan Israel di wilayah Suriah merupakan masalah serius dan berpotensi menjadi ancaman langsung bagi keamanan kawasan, termasuk Turki.
Ia menekankan bahwa kondisi damai saat ini hanya bersifat sementara, dan Israel dapat mengalihkan fokusnya setelah konflik dengan Iran mereda.
Menurut Fidan, dinamika yang berkembang menunjukkan bahwa Suriah berpotensi menjadi target berikutnya.
Ia juga mengisyaratkan bahwa Turki tidak berada di luar spektrum ancaman, terutama di tengah upaya Israel membentuk musuh baru dalam peta konflik regional.
Pernyataan tersebut diperkuat dengan meningkatnya intensitas serangan Israel di wilayah Suriah dalam beberapa waktu terakhir.
Data yang dipublikasikan lembaga riset internasional menunjukkan ratusan insiden militer di Suriah selatan, dengan tren peningkatan signifikan sepanjang awal 2026.
Serangan tersebut tidak hanya bersifat terbatas, tetapi juga mengarah pada pembentukan realitas keamanan baru di lapangan, termasuk upaya memperluas pengaruh dan menciptakan zona kendali di wilayah perbatasan seperti Quneitra dan Daraa.
Fidan menekankan pentingnya stabilitas Suriah sebagai kunci stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Ia juga menyerukan kepatuhan terhadap perjanjian keamanan internasional guna menjaga kedaulatan negara-negara di Timur Tengah.
Pernyataan ini mengarah pada satu kesimpulan strategis, setelah Iran, Suriah dan berpotensi Turki dipandang sebagai bagian dari fase berikutnya dalam dinamika konflik yang melibatkan Israel di kawasan.