Mengungkap Kisah “Sahabat” Nabi yang Masih Hidup Sampai Sekarang, Benarkah Ada?

DEMOCRAZY.ID – Tahukah kamu bahwa ada satu “sahabat” Nabi Muhammad SAW yang diyakini masih hidup di dunia hingga detik ini?

Menariknya, sosok sahabat tersebut bukan seorang manusia, lho. Penasaran “apa” sahabat Rasulullah SAW tersebut dan bagaimana kisahnya?

Siapakah “Sahabat” Nabi yang Masih Hidup sampai Sekarang?

Dalam sejumlah riwayat, disebutkan bahwa ada satu “sahabat” Nabi Muhammad SAW yang diyakini masih hidup sampai sekarang, yaitu sebuah pohon kuno yang dijuluki “Pohon Sahabi” atau “The Only Living Sahabi”.

Pohon ini berdiri tegak dan rimbun sendirian di tengah hamparan padang pasir yang sangat gersang, tepatnya di kawasan Gurun Buqa’awiyya, bagian utara negara Yordania.

Kisah Perjalanan Rasulullah ke Syam dan Perjumpaan dengan Pendeta Bahira

Sejarah Pohon Sahabi bermula ketika Nabi Muhammad SAW masih berusia sekitar 9 hingga 12 tahun.

Pada masa itu, beliau ikut bersama pamannya, Abu Thalib, dalam sebuah kafilah dagang kaum Quraisy yang melakukan perjalanan ke negeri Syam.

Di tengah perjalanan, rombongan tersebut singgah di sebuah daerah bernama Bushra.

Saat para pedagang beristirahat, Nabi Muhammad kecil dipercaya untuk menjaga barang dagangan dan unta-unta kafilah di bawah sebuah pohon.

Menurut riwayat yang berkembang, pada saat itulah terjadi peristiwa yang luar biasa.

Dahan dan ranting pohon tersebut dikisahkan merunduk sehingga menaungi Nabi Muhammad SAW, sementara segumpal awan terus mengikuti dan melindungi beliau dari terik matahari.

Peristiwa itu diamati oleh seorang pendeta Nasrani bernama Bahira atau Buhaira yang tinggal di sebuah biara tidak jauh dari lokasi tersebut.

Berdasarkan pengetahuannya tentang kitab-kitab terdahulu, Bahira meyakini bahwa Muhammad memiliki tanda-tanda sebagai calon nabi yang telah dinantikan.

Setelah mengundang rombongan Quraisy untuk makan bersama, Bahira memeriksa punggung Rasulullah dan menemukan tanda kenabian di antara kedua bahunya, yang dalam sejumlah riwayat digambarkan menyerupai bekas luka bekam.

Menyadari pentingnya sosok anak tersebut, Bahira kemudian memperingatkan Abu Thalib agar segera membawa keponakannya kembali ke Makkah.

Ia khawatir keselamatan Muhammad terancam, terutama jika orang-orang Yahudi mengetahui identitas dan tanda-tanda kenabiannya.

Sejarah Penemuan Pohon Sahabi di Era Modern

Lalu, bagaimana Pohon Sahabi bisa ditemukan kembali di era modern? Kisah ini bermula dari Pangeran Ghazi bin Muhammad, seorang ahli sejarah yang baru menyelesaikan pendidikannya di Universitas Cambridge.

Setelah kembali ke Yordania, beliau mendapat tugas dari pamannya, Raja Hussein, untuk bekerja di Royal Archives atau perpustakaan arsip kerajaan.

Saat menelusuri berbagai dokumen dan literatur kuno dari masa Raja Abdullah I, Pangeran Ghazi menemukan catatan mengenai sebuah pohon bersejarah yang belum tercatat sebagai situs suci.

Temuan tersebut mendorongnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Berbekal informasi dari naskah-naskah kuno, Pangeran Ghazi bersama otoritas Yordania melakukan ekspedisi ke wilayah utara Yordania untuk mencari lokasi yang dimaksud.

Dalam perjalanan itu, ia juga mengundang sejumlah ulama, salah satunya Syekh Ahmad Hassoun yang saat itu menjabat sebagai Mufti Besar Suriah, untuk ikut meninjau lokasi secara langsung.

Setelah melakukan observasi, tim tersebut menyimpulkan bahwa pohon yang ditemukan memiliki banyak kesamaan dengan deskripsi pohon tempat Nabi Muhammad SAW berteduh dalam kisah pertemuannya dengan Pendeta Bahira.

Sejak saat itu, Pohon Sahabi ditetapkan sebagai flora yang dilindungi oleh negara dan hingga kini terus dijaga serta dirawat oleh pemerintah Yordania.

Pandangan Ulama dan Ahli Sejarah

Penting untuk diketahui bahwa keberadaan dan status Pohon Sahabi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama maupun para akademisi.

Dari sisi ilmu hadis, ahli tafsir terkemuka At-Tabari serta kitab Sirah Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi menjelaskan bahwa riwayat tentang pohon ini berstatus mursal.

Sebagai informasi, mursal adalah riwayat yang sanadnya terputus pada tingkat Tabi’in (generasi Muslim terbaik kedua setelah sahabat Nabi).

Sebagian ulama fikih tetap menerima riwayat semacam ini sebagai hujjah atau dasar argumentasi, tetapi ada pula yang tidak menganggapnya kuat karena tidak didukung sanad yang benar-benar sahih.

Sementara itu, jika dilihat dari sudut pandang sejarah dan geografi, Prof. Ibrahim Musa al-Zaqarthi, selaku Ketua Pengkaji Geografi Yordania, memiliki pandangan yang berbeda.

Menurutnya, kisah Pohon Sahabi masih perlu dikaji lebih lanjut karena wilayah Buqa’awiyya tidak pernah disebut secara spesifik oleh sejarawan seperti Ibnu Hisyam maupun At-Tabari.

Selain itu, secara historis Buqa’awiyya juga dinilai bukan termasuk jalur yang biasa dilalui kafilah dagang dari Makkah menuju Syam.

Keraguan tersebut semakin menguat setelah adanya penelitian dari Kementerian Pertanian Yordania yang memperkirakan usia pohon tersebut sekitar 520 tahun, bukan sekitar 1.400 tahun sebagaimana yang diyakini dalam sebagian riwayat.

Kendati demikian, terlepas dari perbedaan pendapat ahli sejarah, pro-kontra sanad riwayat ulama, hingga perdebatan mengenai usia ilmiahnya, sosok Pohon Sahabi tetap memiliki ruang istimewa di hati umat Islam.

Kehadiran pohon unik yang sekarang dilindungi oleh pemerintah Yordania ini setidaknya telah berhasil menjadi monumen alam yang mengingatkan kita pada jejak sejarah perjalanan masa kecil Rasulullah.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya