DEMOCRAZY.ID – Dinamika politik pasca-Pilpres 2024 mulai memanas dengan munculnya sinyal persaingan pengaruh antara Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Keduanya disebut-sebut tengah memperebutkan pengaruh terhadap Partai Nasional Demokrat (NasDem) sebagai bagian dari reposisi kekuatan politik menuju 2029.
Analis politik dan militer, Doktor Selamat Ginting, mengungkapkan bahwa pembentukan 34 relawan Gibran di seluruh provinsi Indonesia merupakan sinyal kuat konsolidasi basis politik personal.
Menurutnya, Gibran tengah menjalankan pola “pre-presidential positioning” yang dulu pernah dilakukan ayahnya, Joko Widodo (Jokowi).
“Ini adalah sebuah sinyal bahwa Gibran sedang melakukan konsolidasi basis politiknya. Artinya tidak cukup hanya mengandalkan PSI. Saya membaca ini konsolidasi basis politik personal yang dilakukan oleh Gibran untuk early positioning 2029 mendatang,” ujar Selamat Ginting dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (14/4/2026).
Selamat Ginting menyoroti manuver Gibran yang mulai merambah ke partai politik menengah seperti NasDem.
Alih-alih membangun partai dari nol, Gibran dinilai lebih tertarik mengambil alih atau “menggembosi” partai yang sudah memiliki kursi di Senayan melalui tokoh-tokoh kuat.
Ia mengungkapkan adanya eksodus sejumlah pentolan NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang kini dipimpin adik Gibran, Kaesang Pangarep.
Tokoh-tokoh kuat di Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat disebut mulai merapat ke gerbong PSI.
“Gibran menggunakan orang-orang Nasdem yang dulu masuk di dalam untuk gerilya. Gerilya menggembosi Nasdem,” ujarnya.
Strategi ini dianggap lebih realistis bagi Gibran daripada mengandalkan PSI yang dalam dua kali pemilu gagal menembus ambang batas parlemen.
Di sisi lain, Prabowo Subianto juga tidak tinggal diam.
Selamat Ginting membeberkan informasi mengenai pertemuan antara Prabowo dan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, di Hambalang pada 11 April lalu yang tidak diketahui pers.
Pertemuan tersebut memicu spekulasi di media sosial mengenai kemungkinan penggabungan atau akuisisi Partai NasDem oleh Gerindra, yang kemudian memunculkan istilah “Gren Dam” (Gerindra-NasDem).
“Pendekatan Gerindra kira-kira 11 April lalu, berkembang informasi Prabowo menjumpai Surya Paloh tanpa diketahui pers. Pertemuan di Hambalang bisa dibilang posisi Surya Paloh ini kan relatif terjepit setelah di dalam kontestasi Pemilu 2024 lalu berseberangan dengan Jokowi,” ujarnya.
Menurutnya, Surya Paloh saat ini berada dalam posisi dilematis setelah berseberangan dengan Jokowi dalam Pilpres 2024.
Namun, adanya ikatan sejarah sesama alumni Golkar, baik dari jalur birokrasi, partai, maupun militer, menjadi jembatan bagi Prabowo untuk merangkul NasDem masuk ke dalam orbit kekuasaannya.
Selamat Ginting menilai fragmentasi internal di tubuh NasDem tak terelakkan. Para elite partai mulai mencari posisi baru yang lebih dekat dengan lingkar kekuasaan.
Mengingat pada pertengahan 2026 mendatang, konstelasi politik diperkirakan kembali berubah menyambut persiapan pemilu berikutnya.
“Partai-partai ini mencari posisi baru dalam orbit kekuasaan dan jika ini benar akan ada eksodus besar-besaran dari tokoh-tokoh Nasdem ke PSI atau ke Gerindra, ini bisa mengindikasikan memang ada fragmentasi internal di tubuh Nasdem,” ujarnya.
[FULL VIDEO]
Sumber: Suara