Kiamat Ibu Kota Baru! 3 Negara Ini Sudah Terbukti Gagal Total, IKN Nusantara Bakal Nyusul Jadi Proyek Mangkrak?

DEMOCRAZY.ID – Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa Jakarta tetap menjadi Ibu Kota Negara usai menolak permohonan uji materiil Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022.

Lalu bagaimana nasib IKN di Kalimantan Timur?

Hakim Konstitusi Adies Kadir mengatakan untuk memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke IKN itu harus ada Keputusan Presiden (Keppres).

MK menilai jika Keppres itu sudah ditandatangani, maka keputusan mengenai Ibu Kota Negara itu bisa mulai berlaku dan memiliki kekuatan mengikat.

“Artinya, dalam konteks permohonan a quo berlakunya waktu pemindahan ibu kota negara ke Ibu Kota Nusantara tergantung pada penetapan dan pemberlakuan keputusan presiden dimaksud,” katanya sebagaimana dilansir di situs MK, Selasa (12/5/2026).

Sementara itu, menurut Juru Bicara Otorita IKN Troy Pantouw, IKN akan jadi Ibu Kota politik pada 2028. Ketetapan ini sesuai dengan Kepres No.79 tahun 2025.

“Sesuai Kepres No.79 tahun 2025 disebutkan arah Ibu Kota IKN sebagai Ibu Kota Politik pada tahun 2028,” ujarnya, dikutip dari detikProperti, Rabu (20/5/2026).

Ia mengatakan pembangunan IKN juga akan tetap berjalan normal dan sesuai target. Menurutnya, tidak ada proyek terhambat ataupun mangkrak.

Apa yang dihadapi IKN pernah dihadapi sejumlah negara saat memindahkan ibu kota barunya. Namun, beberapa negara ada yang dianggap gagal karena proses yang lambat hingga warganya yang tak mau pindah.

Negara yang Dinilai Gagal Memindahkan Ibu Kota Barunya

Meski nasib IKN belum bisa dipastikan, sejarah mencatat ada beberapa negara yang pernah memindahkan ibu kotanya.

Namun, pemindahan tersebut dianggap gagal karena berbagai alasan, mulai dari sedikitnya peminat warga untuk pindah, pusat ekonomi yang masih di ibu kota lama, dan sebagainya.

Berikut ini negara-negara yang dinilai gagal memindahkan ibu kota barunya,

Myanmar – Yangon ke Naypyidaw

Ibu kota negara Myanmar sudah berganti sejak akhir 2005 dari Yangon ke Naypyidaw. Sampai saat ini, ketenaran Yangon masih membuat orang beranggapan bahwa ibu kota Myanmar masih di sana.

Mengutip Britannica, Naypyidaw berada di lokasi terpencil dengan jarak 320 kilometer di sebelah utara Yangon.

Kota ‘baru’ ini dibangun megah dengan jalan raya yang sangat lebar, lapangan golf, taman safari, kebun binatang hingga pagoda mewah.

Meski begitu, pemindahan ibu kota ini dianggap gagal karena Naypyidaw justru sepi penduduk.

Para penduduk lebih memilih tetap tinggal di Yangon karena masih menjadi pusat perdagangan dan perekonomian. Sementara Naypyidaw dikenal hanya sebagai pusat administrasi dan pemerintahan.

Kazakhstan – Almaty ke Astana

Ibu kota Kazakhstan semula Almaty. Namun, pada 1997 berpindah ke Astana atau Nur-Sultan.

Mengutip Economic Times, alasan pemindahan adalah kondisi geografis Almaty yang rentan diguncang gempa dan terlalu dekat dengan negara tetangga.

Astana dipilih karena dianggap lebih strategis dan tahan terhadap bencana alam.

Pada awal pemindahan, banyak warga tidak ingin ke Astana karena momentum perekonomian Kazakhstan saat ini sedang terpuruk. Alasan infrastruktur juga menjadi pertimbangan.

Namun, perlahan, pemindahan berangsur membaik hingga 2000-an. Meski begitu, perlu waktu 22 tahun sejak pemindahan ibu kota baru untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi Kazakhstan.

Tanzania – Dar es Salaam ke Dodoma

Tanzania mulai memindahkan ibu kota dari Dar es Salaam ke Dodoma pada 1973. Pemindahan ini dilakukan untuk mengurangi kepadatan penduduk di Dar es Salaam.

Namun, pemindahan ibu kota berlangsung sangat lama. Setelah 50 tahun banyak mengalami penundaan, tepatnya pada 2023, proses pemindahan mencapai puncak dengan pembukaan gedung Istana Negara yang baru di Chamwino, Dodoma.

Mengutip The Conversation, proses pemindahan yang lama disebabkan oleh berbagai faktor kombinasi mulai dari politik, ekonomi, hingga logistik.

Di sisi lain, pemimpin negara dan pemerintahan dinilai kurang memiliki komitmen.

Sumber: Detik

Artikel terkait lainnya