KACAU BALAU! Bencana Informasi di Bawah Seskab Teddy: ‘Istana Dinilai Gagal Total, Publik Murka’

Bencana Informasi di Bawah Seskab Teddy

Serial #DeadPressSociety mengungkap berbagai bentuk pembungkaman pers yang terjadi di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.

* * *

Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya mengatur ketat arus informasi istana. Minta wartawan memberitakan yang baik-baik saja. Ia mengancam manajemen dan petinggi media saat tidak suka dengan isi pemberitaan. Situasi pers saat ini mengingatkan pada doktrin “Pers Pancasila” di era Orde Baru.

DI SUMATRA, akhir 2025, bencana tidak datang tiba-tiba.

Pada 17 November, kira-kira seminggu sebelum bencana mewujud, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menerbitkan siaran pers dengan judul begitu terang: “Waspada Cuaca Ekstrem di Sumatra Utara“.

Empat hari berselang, BMKG pun merilis untuk dua provinsi lainnya: Sumatra Barat dan Aceh.

Seluruh rilis itu menyampaikan pesan senada: waspada cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Rilis untuk Aceh secara spesifik telah menyebut kemunculan “bibit siklon tropis 95B” sejak 21 November di wilayah Selat Malaka yang dapat memicu hujan lebat dan angin kencang.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani bilang peringatan cuaca ekstrem ini disampaikan ke berbagai pemangku kepentingan secara bertahap, termasuk kepada pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Jadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, Kepala Balai Besar BMKG wilayah 1 sudah memberikan warning delapan hari sebelum [25 November], diulang lagi empat hari sebelumnya, dan dua hari sebelumnya,” kata Faisal.

Namun, para pemangku kepentingan, entah di daerah maupun pusat, tampak anteng saja. Tidak ada rapat khusus untuk membahas hal ini. Tidak ada langkah antisipasi ataupun mitigasi yang segera diambil.

Pada 22 November, seperti dicatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir mulai melanda Mandailing Natal di Sumatra Utara dan Aceh Selatan setelah hujan lebat terus mengguyur kedua daerah tersebut. Sedikitnya 95 keluarga terdampak.

Esoknya, giliran Padang Pariaman di Sumatra Barat yang kena banjir, juga karena hujan yang tak kunjung berhenti. Skalanya jauh lebih besar dibanding dua daerah sebelumnya. Beberapa sungai meluap sekaligus. Per 24 November pagi, 3.076 keluarga atau 9.228 jiwa telah terdampak.

Hujan terus turun. Bencana kian meluas. Pada 25 November, air bah menyasar Langsa. Di hari yang sama, banjir dan longsor disebut telah melanda setidaknya lima kota dan kabupaten di Sumatra Utara: Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Padang Sidempuan.

Detik demi detik berlalu, dan jumlah korban terus bertambah. Per 26 November pagi, delapan warga Tapanuli Selatan disebut telah meninggal dunia karena bencana.

Di hari-hari penuh duka ini, Presiden Prabowo Subianto melaluinya dengan menjalani agenda seperti biasa.

Pada 24 November, Prabowo rapat bersama pimpinan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mendorong mereka mengoptimalkan riset untuk mendukung program prioritas nasional. Kemudian, ia bertemu Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk membahas inflasi dan perekonomian daerah.

Pada 25 November, Prabowo bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang melaporkan hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Afrika Selatan. Ia pun sempat berjumpa Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir untuk membahas peningkatan kesejahteraan atlet nasional. Kemudian, ia memimpin evaluasi nasional percepatan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Pada 26 November, Prabowo bertemu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk membahas program energi baru dan terbarukan, lalu berjumpa Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono untuk menerima laporan kemajuan Kampung Nelayan Merah Putih.

Pada 27 November, Prabowo menerima kunjungan Ratu Máxima dari Belanda di Istana Merdeka, Jakarta, pada tengah hari. Sorenya, barulah Prabowo rapat bersama sejumlah menterinya membahas subsidi LPG dan penanganan bencana Sumatra.

Malamnya, setelah Prabowo selesai rapat bersama para menteri, banjir dan longsor telah menghajar 43 kota dan kabupaten di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Setidaknya saat itu 72 orang dilaporkan meninggal dan 54 orang hilang. (Per Januari 2026 jumlah korban yang tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang.)

Dengan segala kegagapannya, pemerintah pusat akhirnya memulai operasi penanganan bencana Sumatra.

Dan, siapa yang berani melaporkan keamatiran pemerintah di lapangan mesti bersiap menghadapi konsekuensinya.

Dipaksa Jadi Humas Pemerintah

Indira, bukan nama sebenarnya, tiba di Kota Padang pada Desember 2025. Ia dikirim kantornya dari Jakarta untuk meliput penanganan bencana Sumatra. Kantornya adalah sebuah televisi swasta yang tergabung dalam konglomerat media besar di Indonesia,

Nyaris tiga pekan telah berlalu sejak bencana tiba. Namun, kata Indira, situasi di lapangan saat itu masih “kacau”.

Selengkapnya Baca: https://projectmultatuli.org/bencana-informasi-di-bawah-seskab-teddy/

Artikel terkait lainnya