Iblis Berkedok Kiai! Mengaku Wali hingga Cabuli 50 Santriwati, Pelaku di Pati Nekat Suap Pengacara Rp 400 Juta

DEMOCRAZY.ID – Ashari, seorang kiai di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terseret kasus dugaan pencabulan terhadap 50 santriwati.

Ia diduga berupaya menyuap kuasa hukum korban sebesar Rp 400 juta agar kasusnya dihentikan.

Meski sudah berstatus tersangka, pria tersebut hingga saat ini belum ditahan oleh pihak kepolisian.

Kuasa hukum korban, Ali Yusron, membenarkan adanya upaya penyuapan tersebut.

Menurut Ali, tersangka awalnya menawarkan uang Rp 300 juta, namun kemudian naik menjadi Rp 400 juta.

Ali menolak tawaran itu karena menganggapnya bukan haknya.

“Tidak saya terima karena uang tersebut bagi saya bukan hak saya. Itu uang haram,” tegas Ali.

Ali menegaskan komitmennya untuk mengawal kasus ini sampai tuntas.

Ia menyoroti kasus pencabulan yang sempat mandek pada 2024 dan kini kembali diusut.

Ia juga mendesak kepolisian agar segera melakukan penahanan.

“Kalau memang minggu depan tidak ditahan, saya akan bersurat ke Kapolda, Propam, hingga Itwasda,” ujar Ali.

Ketua Yayasan Ndholo Kusumo, Ahmad Sodik, menyatakan pihaknya telah menonaktifkan Ashari dari kepengurusan pesantren pasca penetapan status tersangka.

“Sudah saya lepas. Sudah tidak termasuk anggota yayasan. Semua sudah saya ganti,” tutur Ahmad.

Ahmad mengaku tidak mengetahui adanya aktivitas penyimpangan di pondok pesantren tersebut.

Ia mengklaim yayasan dan pondok merupakan dua entitas berbeda yang tidak saling mencampuri urusan internal.

“Tidak pernah dilaporkan ke saya. Saya juga tidak tahu seluk-beluk kegiatan di pondok. Pondok itu di luar yayasan. Hanya memakai nama saja. Sekarang sudah saya lepas,” tambahnya.

Sisi gelap kegiatan pondok diungkap oleh Shofi, seorang warga yang pernah bekerja di sana selama 11 tahun hingga akhirnya memutuskan keluar pada 2018.

Ia mengaku diperas dan dipaksa berbohong kepada orang tuanya.

“Pondok ini dibangun dari uang budak-budak si iblis Ashari. Tahun 2008 saya disuruh berbohong sama orang tua saya kalau saya mondok di Jepara, supaya uang kiriman dari orang tua saya itu bisa masuk ke sini,” beber Shofi.

Shofi menuturkan, para santri patuh karena Ashari mengklaim dirinya sebagai sosok Khariqul ‘Adah atau wali yang memiliki kemampuan di luar logika manusia.

“Dia bisa menebak mbah saya meninggal kapan dan jam berapa. Dia juga bisa menebak adik saya melahirkan jam sekian, jenis kelaminnya cowok, dan nanti harus dinamai ini. Itu terjadi sungguhan sehingga saya dulu percaya dia memang wali,” jelas Shofi.

Menurut Shofi, tindakan pencabulan terhadap santriwati sering dilakukan secara terang-terangan di depan umum karena para korban merasa takut untuk melawan.

“Termasuk istri saya kalau salaman juga dicium pipi kanan kiri, jidat, sama bibirnya. Santriwati saya lihat hampir semua juga mengalami. Kalau berzina kan tidak ada yang lihat,” pungkas Shofi.

Hingga kini, tercatat ada 50 santriwati yang menjadi korban, dengan potensi jumlah yang masih dapat bertambah.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya