DEMOCRAZY.ID – Amerika Serikat kini secara tragis dinilai sangat jauh tertinggal dari tujuan awal mereka saat pertama kali mengobarkan peperangan melawan Republik Islam Iran.
Kegagalan strategis ini terjadi di tengah rumitnya keterlibatan militer dan diplomatik pemerintahan Donald Trump yang justru memicu kebangkitan taktik perlawanan baru dari Teheran.
Alih-alih melumpuhkan kekuatan musuh, arogansi blokade militer yang dipaksakan AS di Timur Tengah justru membuat pengeluaran harian Pentagon membengkak hingga menyentuh angka dua miliar dolar Amerika.
Fakta mengejutkan mengenai kegagalan strategi Washington ini diungkapkan langsung oleh Daniel Benaim, mantan wakil asisten menteri luar negeri AS untuk Urusan Jazirah Arab.
Benaim menilai bahwa momentum bagi Amerika Serikat untuk bisa mengklaim kemenangan secara mutlak sebenarnya sudah lewat dan sayangnya kesempatan itu tidak pernah diambil.
“Kami sekarang berada dalam keterlibatan militer yang sangat rumit dengan Iran dan keterlibatan diplomatik yang sangat rumit,” ujarnya kepada jaringan media Al Jazeera.
Mantan pejabat tinggi tersebut secara blak-blakan menyebut bahwa AS telah gagal mencapai hampir setiap tujuan yang ditetapkannya sendiri saat pertama kali melancarkan perang.
“Kami berbicara tentang membatasi program nuklir Iran dengan cara yang berwibawa dalam jangka waktu yang lama. Bisa dibilang, beberapa di antaranya dapat dilakukan tanpa perang,” ungkapnya mengkritik kebijakan pemerintah.
Menyoroti perihal pelucutan stok rudal Teheran, Benaim mengakui bahwa persediaan senjata tersebut masih utuh dan militer Iran justru sukses menemukan celah baru untuk mengancam dunia.
“Kami berbicara tentang mengatasi persediaan rudal Iran sehingga tidak dapat mengancam kawasan dan dunia. Saya pikir itu telah terjadi sampai batas tertentu, meskipun banyak dari rudal tersebut masih ada, dan Iran telah menemukan cara baru untuk mengancam kawasan dan Dunia dengan menutup Selat Hormuz dengan cara yang bahkan belum terlalu jelas sebelum perang ini,” jelasnya.
Ambisi besar negara-negara Barat untuk menggulingkan susunan pemerintahan di Iran juga terbukti hanya menjadi angan-angan kosong belaka.
Meskipun serangan gabungan AS-Israel sebelumnya sempat menewaskan sejumlah pemimpin kunci Iran, rezim yang sama tetap berdiri kokoh dengan tokoh-tokoh pengganti yang jauh lebih tangguh dan pantang diajak kompromi.
“Jadi, pada semua tujuan tersebut, kami tertinggal cukup jauh dari saat kami memulai perang ini,” kata Benaim menyimpulkan keputusasaan Amerika.
Merespons tekanan bertubi-tubi tersebut, pemerintah Iran secara resmi menyatakan penolakan mutlak untuk berunding dengan pihak Amerika Serikat selama arogansi intimidasi militer terus berlangsung.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memberikan peringatan keras bahwa Teheran tidak akan pernah membiarkan martabat bangsanya diinjak-injak melalui mekanisme perundingan yang diskriminatif.
“Donald Trump berusaha mengubah meja perundingan menjadi ‘meja penyerahan’,” tegas Qalibaf melalui pernyataan resminya di media sosial X.
Tokoh senior tersebut bahkan mengancam bahwa militer Iran telah menyusun kekuatan dan bersiap untuk menunjukkan kartu-kartu baru di medan tempur dalam dua minggu terakhir.
Hambatan utama untuk melanjutkan proses diplomatik global ini juga dipicu oleh rentetan pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan secara curang oleh kubu militer Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah memastikan bahwa negaranya selalu memperhitungkan seluruh aspek secara matang sebelum mengambil manuver mematikan di lapangan.
Di saat bangsa Persia menunjukkan sikap tak gentar, Donald Trump justru masih berhalusinasi dengan mengeklaim bahwa sanksi AS sukses merugikan ekonomi Teheran hingga 500 juta dolar per hari.
“Blokade, yang tidak akan kami cabut sampai ada kesepakatan,” tulis Trump di platform Truth Social sembari melempar isyarat tuntutan pergantian rezim di Iran.
Namun, klaim kesuksesan sepihak Trump tersebut dibantah keras oleh Linda Bilmes, seorang pakar kebijakan publik ternama dari Kennedy School of Government Universitas Harvard.
Analisis Bilmes justru memperkirakan bahwa biaya operasional Amerika Serikat untuk mendanai peperangan ini menyentuh angka dua miliar dolar setiap harinya, jauh melampaui kerugian ekonomi yang ditanggung Iran.
Ketegangan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat berakar kuat pada sengketa hak berdaulat atas program nuklir serta pergeseran hegemoni geopolitik di wilayah Asia Barat.
Hubungan diplomatik kedua negara runtuh seketika semenjak Washington secara sewenang-wenang menarik diri dari kesepakatan nuklir tahun 2015 dan kembali menerapkan sanksi ekonomi secara ilegal.
Presiden AS Donald Trump bersikeras membantah bahwa dirinya diseret ke dalam jurang perang oleh Israel, melainkan murni karena ambisi pribadinya untuk melucuti kedaulatan nuklir bangsa Persia.
Blokade maritim yang diterapkan militer Washington saat ini sengaja dirancang secara brutal untuk mencekik kemampuan ekspor minyak yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian rakyat Iran.
Hingga detik ini, Republik Islam Iran tetap kokoh berdiri mempertahankan kedaulatannya tanpa ada sedikit pun niat untuk tunduk pada de-eskalasi yang didiktekan oleh negara Barat.
Sumber: Suara