DEMOCRAZY.ID – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menyinggung perannya dalam perjalanan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Pernyataan itu dinilai bukan sekadar kilas balik, melainkan bagian dari dinamika politik yang sedang berkembang.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, melihat kemunculan pernyataan JK berkaitan erat dengan konteks politik saat ini.
Ia menilai momentum tersebut tidak hadir secara kebetulan, terutama ketika peta kekuasaan mulai bergeser.
“Dalam politik, pernyataan tentang masa lalu hampir selalu punya dimensi hari ini,” ujar Arifki dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
“Apa yang disampaikan JK bisa dibaca sebagai upaya menegaskan peran historis sekaligus menjaga posisi dalam percakapan politik nasional,” sambungnya.
Arifki menambahkan, perjalanan politik Jokowi tidak bisa dilepaskan dari peran sejumlah tokoh lain, seperti Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto sekaligus Ketua Umum Partai Gerinda Prabowo Subianto.
Serta momentum politik yang mendukung, termasuk preferensi politik masyarakat saat itu.
Ia juga menyinggung posisi JK pada 2014 sebagai calon wakil presiden yang mendampingi Jokowi.
Menurutnya, dukungan partai politik, konfigurasi koalisi, hingga situasi nasional turut membentuk jalan Jokowi menuju puncak kekuasaan.
“Ketika konfigurasi politik berubah, narasi tentang siapa berperan apa menjadi relevan kembali. Ini bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal positioning,” tutur Arifki.
Meski begitu, Arifki mengingatkan bahwa perjalanan politik seorang pemimpin merupakan hasil interaksi banyak aktor dan momentum, bukan berdiri sendiri.
“Ada banyak aktor dan faktor yang berkontribusi. Karena itu, publik juga perlu melihatnya dalam konteks yang lebih luas,” katanya.
Sebelumnya, JK mengatakan ia punya peran besar dalam karier politik Jokowi.
“Apa kurangnya saya coba? Saya yang bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu, termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya,” kata JK dalam jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Termul adalah singkatan dari Ternak Mulyono, sebuah istilah gaul politik yang sering digunakan di media sosial Indonesia sebagai sindiran atau kritik terhadap pendukung atau loyalis Jokowi.
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks mencuatnya video ceramah JK di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diduga bermuatan penistaan agama.
Muncul dugaan video itu tersebar sebab JK pernah menyinggung terkait ijazah Jokowi.
Padahal, lanjut JK, dirinya punya banyak peran dalam membantu Jokowi menaiki tangga karier politiknya dari Solo ke Jakarta.
“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa,” tuturnya.
Ia juga mengeklaim Megawati berterima kasih padanya sebab membantu Jokowi.
“Sehingga waktu dia menang jadi gubernur, setelah ke Ibu Mega, datang sama saya ucapan terima kasih,” pungkas JK.
Menanggapi hal tersebut, Jokowi justru merespons dengan nada merendah.
Ia mengaku dirinya bukan sosok istimewa dan berasal dari latar belakang sederhana.
“Ya saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung,” ungkap Jokowi saat ditemui di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Solo, Senin (20/4/2026).
Pernyataan itu disampaikan Jokowi menanggapi klaim Jusuf Kalla yang sebelumnya disampaikan dalam sebuah jumpa pers pada Sabtu (18/4/2026).
Diketahui, hubungan politik antara Jusuf Kalla dan Jokowi telah terjalin sejak lama, terutama saat keduanya berpasangan sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2014–2019.
Sumber: Tribun