The Strokes ‘Telanjangi’ Dosa Amerika Serikat, Kecam Agresi AS-Israel ke Iran

DEMOCRAZY.ID – Band rock ternama asal Amerika Serikat, The Strokes, dengan berani membongkar borok campur tangan kotor Washington dalam urusan negara berdaulat saat tampil memukau di panggung Festival Coachella.

Penampilan epik ini tidak hanya menjadi hiburan musik bagi anak muda, tetapi juga berubah menjadi panggung protes keras yang mengecam Agresi AS-Israel terhadap Republik Islam Iran.

Langkah berani kelompok musik ini memberikan nilai baru bagi pergerakan musisi global dalam menentang imperialisme modern yang selama ini ditutupi oleh narasi bias media arus utama Barat.

Mengakhiri set penampilan mereka pada akhir pekan kedua festival bergengsi di California Selatan tersebut, grup ini menayangkan montase politik tajam di layar LED raksasa saat membawakan lagu rilisan 2016 berjudul “Oblivius”.

Visual panggung seketika berubah memutar gambar masjid yang terang benderang yang kemudian berganti menjadi potret Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh yang terpilih secara demokratis.

Mengingat Kembali Kudeta CIA di Berbagai Negara

Penggulingan kekuasaan Mossadegh pada tahun 1953 secara gamblang diungkap di layar sebagai kudeta yang didalangi oleh CIA bersama Inggris berdasarkan konfirmasi dari dokumen rahasia Amerika Serikat yang kini terbuka untuk publik.

Vokalis Julian Casablancas mengiringi tayangan visual sejarah tersebut dengan menyanyikan lirik, “Di pihak mana Anda berdiri?”.

Layar raksasa terus menampilkan rentetan operasi hitam CIA dan konspirasi Belgia yang sukses menyingkirkan Patrice Lumumba, perdana menteri pertama yang terpilih secara demokratis di Kongo.

Rekam jejak campur tangan Washington semakin ditelanjangi melalui visual penggulingan Presiden Bolivia Juan José Torres dan Presiden Guatemala Jacobo Árbenz yang juga direkayasa oleh intelijen Amerika Serikat.

Montase tersebut juga secara berani menyoroti keterlibatan langsung CIA dalam penggulingan Presiden Cile Salvador Allende serta insiden kecelakaan pesawat misterius yang menewaskan pemimpin militer Panama Omar Torrijos dan Presiden Ekuador Jaime Roldós Aguilera.

Suara Keadilan untuk Iran dan Gaza

Aksi panggung ini melangkah lebih jauh dengan menyoroti insiden pembunuhan Martin Luther King Jr., menampilkan tulisan di layar yang menuduh pemerintah AS telah “dinyatakan bersalah atas pembunuhannya dalam persidangan perdata.”

Puncak dari protes visual ini ditutup dengan fakta menyedihkan yang menyatakan bahwa lebih dari 30 universitas di wilayah Republik Islam Iran telah dihancurkan sejak Agresi AS-Israel dimulai awal tahun ini.

Angka fantastis terkait kehancuran fasilitas pendidikan di negara berdaulat tersebut secara akurat mengutip data resmi yang dirilis oleh Kementerian Sains dan Teknologi Iran.

Tidak berhenti di situ, layar panggung juga menayangkan rekaman tragis kehancuran Universitas Al-Israa, institusi pendidikan tinggi terakhir yang berdiri di Jalur Gaza sebelum pasukan penjajah Israel meratakannya dengan tanah pada tahun 2024.

Potongan video penampilan bersejarah The Strokes ini langsung menyebar dengan sangat cepat bagaikan api liar di kalangan anak muda lintas platform media sosial.

Hegemoni dan Pembungkaman Digital

Salah satu klip viral tersebut bahkan sukses melampaui 3,7 juta penayangan di platform X hanya dalam waktu satu malam saja.

Namun, mesin sensor platform X dengan cepat bertindak represif dengan menghapus banyak video protes tersebut demi membungkam kebebasan berekspresi yang mengancam narasi penguasa Barat.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya