Desak Uni Eropa Blokade Zionis, Menlu Spanyol: Israel Bawa Timur Tengah ke ‘Perang Abadi’

DEMOCRAZY.ID – Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menuding Israel sedang membawa Timur Tengah menuju perang abadi.

Hal itu disampaikan Albares menyusul aksi barbar Israel di Lebanon.

Menurut Ablares, Israel sedang menerapkan strategi militer yang sama di Lebanon selatan seperti di Jalur Gaza.

“Ini akan sangat serius bagi stabilitas Timur Tengah dan bagi keamanan Israel sendiri,” kata Albares kepada penyiar publik RTVE, Senin.

Atas dasar itulah, ia menegaskan bahwa Israel tidak bisa mempertahankan hubungan normal dengan Uni Eropa (EU) di tengah pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlangsung.

Menurutnya situasi di Lebanon mencerminkan pola pencegahan kehidupan normal bagi warga Lebanon, penghancuran infrastruktur sipil serta pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

“Israel memerintakan pemindahan paksa penduduk sehingga mereka tidak dapat kembali, serta serangan oleh kedua belah pihak terhadap pasukan PBB di Lebanon.”

Situasi tersebut, menurut Albares, menunjukkan bahwa Israel berupaya menguasai sebagian dari negara berdaulat.

Albares juga mengulangi desakan Spanyol agar EU menangguhkan perjanjian asosiasi dengan Israel, yang akan ia perjuangkan pada pertemuan menlu EU pada Selasa (21/4).

“Israel harus memahami bahwa mereka tidak dapat memiliki hubungan normal ketika hak asasi manusia dilanggar secara terang-terangan,” ujarnya.

Seperti dilaporkan Aljazirah, pasukan Israel telah melakukan berbagai tingkat kerusakan di 39 desa di Lebanon selatan sejak gencatan senjata pekan lalu. Demikian disampaikan seorang politisi senior sekutu Hizbullah.

Ali Hassan Khalil, seorang ajudan utama Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri, mengatakan ledakan dahsyat yang dilakukan oleh pasukan Israel telah menghancurkan rumah-rumah warga sipil di selatan. Tindakan itu merupakan kejahatan perang yang jelas.

Abed Abou Shhadeh, seorang komentator politik yang berbasis di Israel, mengatakan Israel mungkin menggunakan gencatan senjata dengan Hizbullah untuk melegitimasi pendudukan mereka di Lebanon.

“Saat ini kita mendengar dua narasi yang saling bertentangan” dari Israel, kata Abou Shhadeh kepada Aljazirah.

Militer Israel telah menerbitkan peta yang juga mencakup perairan teritorial Lebanon.

Menurut Abou Shhadeh, langkah Israel ini mungkin memiliki efek signifikan pada negosiasi.

“Mereka (gerakan pendukung Zionis) tidak mendorong diplomasi apa pun dengan Lebanon atau Iran. Mereka mencoba meyakinkan Netanyahu untuk mempertahankan wilayah selatan Sungai Litani untuk menduduki bagian Lebanon ini.”

Netanyahu memahami bahwa opini publik Israel mendukung pendudukan Lebanon selatan.

“Tetapi dia masih mencoba melihat apa yang akan terjadi selama gencatan senjata antara Iran dan AS sebelum dia mengambil langkah.”

Tidak ikut campur di Hormuz

Beralih ke konflik regional yang lebih luas, Menlu Albares mengatakan Spanyol tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz, yang situasinya masih tegang meskipun telah disepakati gencatan senjata sementara antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.

“Kami tidak akan ambil bagian dalam operasi militer apa pun di selat tersebut,” katanya.

Pekan lalu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan Inggris dan Prancis akan memimpin misi damai untuk melindungi Selat Hormuz setelah pertempuran di wilayah itu berakhir.

Albares menyerukan agar jalur maritim tersebut kembali menjadi “jalur yang bebas, aman, dan terbuka untuk semua kapal tanpa diskriminasi”.

Ia pun mendesak Iran untuk melanjutkan negosiasi dengan AS, melalui mediasi Pakistan, untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Sumber: Republika

Artikel terkait lainnya