DEMOCRAZY.ID – Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan akademisi Universitas Indonesia, Ronnie H. Rusli, yang menyinggung posisi Presiden Prabowo Subianto dalam dinamika konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat.
Ronnie mempertanyakan secara tajam, apakah Prabowo memiliki keberanian untuk datang langsung ke Iran sebagai bentuk dukungan terhadap sesama negara Muslim yang tengah berkonflik.
“Pertanyaannya, kira-kira Presiden Prabowo berani tidak ke Iran memberikan support sebagai kepala negara kepada sesama Muslim yang sedang berperang?” ujar Ronnie dalam pernyataannya yang beredar, Kamis (29/4/2026).
Ia juga menyoroti posisi negara-negara Barat, termasuk Uni Eropa, yang menurutnya tidak sepenuhnya mendukung langkah Amerika Serikat dan Israel dalam konflik tersebut.
Pernyataan Ronnie bukan kali pertama. Sebelumnya, ia juga mengkritik arah kebijakan luar negeri pemerintahan Prabowo yang dinilai cenderung berpihak kepada Israel dan Amerika Serikat.
Menurutnya, sikap tersebut membuat posisi Indonesia menjadi tidak tegas di mata dunia, terutama dalam isu konflik Timur Tengah yang sensitif dan sarat kepentingan geopolitik.
Bahkan, Ronnie menilai persepsi tersebut bisa berdampak pada hubungan Indonesia dengan negara-negara seperti Iran, yang memiliki peran strategis di kawasan, termasuk dalam jalur perdagangan global seperti Selat Hormuz.
Pernyataan ini memicu polemik di ruang publik. Sebagian pihak menilai pernyataan Ronnie sebagai bentuk kritik keras terhadap kepemimpinan nasional, sementara lainnya melihatnya sebagai opini yang terlalu provokatif dalam konteks hubungan internasional.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana terkait pernyataan tersebut.
Di tengah memanasnya situasi global, posisi Indonesia sebagai negara non-blok dan pengusung politik luar negeri bebas aktif kembali menjadi sorotan.
Banyak pihak menilai, langkah diplomasi yang hati-hati justru lebih dibutuhkan dibandingkan manuver yang berisiko tinggi.
Namun demikian, pernyataan Ronnie telah membuka ruang diskusi publik: sejauh mana Indonesia akan mengambil peran dalam konflik global—sebagai penengah, pengamat, atau justru berpihak.
Sumber: JakartaSatu