

DEMOCRAZY.ID – Karpet merah mungkin terbentang, namun wibawa diplomatik Presiden AS Donald Trump justru tampak layu saat mendarat di Beijing, China, Rabu (13/5/2026).
Dalam kunjungan untuk KTT tingkat tinggi yang krusial ini, pemandangan di landasan pacu bandara memberikan pesan yang sangat kontras: Presiden Xi Jinping tidak menampakkan batang hidungnya untuk menyambut sang tamu negara.
Ketidakhadiran Xi di bandara segera menjadi sorotan tajam. Alih-alih disambut oleh sejawat kepala negara, Trump hanya ditemui oleh jajaran pejabat yang secara protokoler berada di bawah kelasnya.
Di bawah tangga Air Force One, Trump hanya dijabat tangannya oleh Duta Besar AS untuk China David Perdue, Wakil Presiden China Han Zheng, Duta Besar China untuk Washington Xie Feng, serta Wakil Eksekutif Menteri Luar Negeri Ma Zhaoxu.
Kelompok advokasi progresif Call To Activism menilai momen ini bukan sekadar urusan teknis protokoler, melainkan kegagalan diplomasi awal yang memalukan.
“Donald Trump tiba di China dan mendapati Presiden Xi TIDAK menyambutnya di bandara,” tegas Joe Gallina, pakar strategi digital sekaligus influencer politik dari lembaga tersebut dalam keterangan tertulisnya.
Gallina menambahkan, meskipun barisan pendukung fanatik Trump (MAGA) mencoba membungkai kunjungan ini sebagai “penyambutan karpet merah” yang megah, fakta di lapangan berbicara lain.
“Kunjungan ini dimulai dengan langkah yang goyah. Alih-alih sambutan kepresidenan, Trump hanya dikerumuni pejabat diplomatik,” sindirnya.
Kritik paling pedas justru datang dari lingkaran keluarga. Keponakan Trump, Mary L. Trump, menyebut absennya Xi sebagai bentuk penghinaan yang direncanakan secara matang untuk menunjukkan posisi dominasi China.
”Xi tidak mau repot-repot menemui Donald di bandara karena dia paham betul—seperti halnya Donald—bahwa mempermalukan bawahan adalah cara jitu untuk menjaga mereka tetap terkendali,” tulis Mary melalui akun X pribadinya kepada lebih dari 1,6 juta pengikutnya.
Situasi ini semakin mempertegas posisi tawar Trump yang sedang berada di titik nadir.
Jurnalis politik Charbel Antoun menilai Trump melangkah ke meja KTT dengan “kartu mati”.
Penyebabnya jelas: kegagalan Trump mengamankan kesepakatan damai dengan Iran di tengah kecamuk perang AS-Israel di Timur Tengah.
Ironisnya, posisi Washington semakin terpojok setelah Teheran justru sepakat melakukan perdamaian melalui mediasi China pada Senin lalu.
Keberhasilan Beijing mengambil peran sebagai “juru damai” global tanpa melibatkan campur tangan Amerika dianggap telah mengunci posisi tawar Trump bahkan sebelum diskusi formal di Beijing dimulai.
Trump kini tak lebih dari sekadar tamu yang harus mengikuti irama permainan tuan rumah.
Sumber: Inilah