DEMOCRAZY.ID — Seruan dan refleksi moral yang disampaikan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam program Endgame bersama Gita Wirjawan di Balai Kartini, Jakarta, mendadak menjadi diskursus hangat di tengah publik.
Di hadapan ribuan pembelajar dan agen perubahan, SBY menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar bernegara yang kian ditinggalkan oleh rejim penguasa hari ini.
SBY mengingatkan bahwa kekuasaan bukanlah aset pribadi atau milik keluarga, melainkan mandat suci dari publik yang harus dijalankan berlandaskan konstitusi, akal sehat, meritokrasi, dan keterbukaan terhadap kritik rakyat.
Dalam pandangannya, SBY menekankan bahwa kursi kepresidenan merupakan sebuah institusi negara yang bekerja berdasarkan sistem hukum dan konstitusi, bukan instrumen personal untuk melanggengkan kekuasaan kelompok atau keluarga tertentu.
“Presiden itu lembaga, bukan orang, bukan pribadi,” tegas SBY menelanjangi pola kepemimpinan yang menyimpang dari aturan main republik.
Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi praktik politik kontemporer yang sarat dengan nepotisme, di mana jabatan publik kerap dibagikan kepada lingkaran terdekat alih-alih mengedepankan kompetensi dan meritokrasi.
SBY juga menggarisbawahi bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangan rakyat.
Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh antikritik, apalagi memposisikan pengkritik sebagai musuh negara atau menyerang balik menggunakan aparat.
Saluran komunikasi antara rakyat dan istana tidak boleh tersumbat oleh kepanikan penguasa.
“Apa yang dikeluhkan, yang dikritikkan, dan diharapkan oleh the people ini menurut saya saluran komunikasi yang tidak boleh tersumbat, harus dicari akarnya,” ujar SBY menyoroti pentingnya keterbukaan penguasa.
Pemerintah, lanjut SBY, hanyalah pengurus negara yang bekerja berdasarkan batasan aturan dan konstitusi, bukan penguasa mutlak yang kebal hukum serta pengawasan publik.
Poin paling monumental dari pemaparan SBY adalah penegasan moral kepemimpinannya selama sepuluh tahun memimpin Indonesia bersama Jusuf Kalla.
Di tengah berbagai terjangan krisis global, mulai dari tsunami Aceh hingga krisis keuangan 2008, SBY memastikan bahwa setiap kebijakan diambil melalui kalkulasi risiko yang matang, bukan demi syahwat kekuasaan sesaat.
“Karena saya tidak berselingkuh pada konstitusi dan akal sehat, kemudian semuanya berjalan dengan benar, melibatkan semua elemen pemerintahan juga memenuhi harapan rakyat,” tegas SBY yang disambut gemuruh tepuk tangan audiens.
[FULL VIDEO]