DEMOCRAZY.ID — CEO WeKa Institute, Wawat Kurniawan, melontarkan kritik menohok terhadap dugaan penggunaan instrumen regulasi keuangan negara untuk meredam krisis yang mengancam kepentingan dinasti politik.
Ia membongkar bagaimana lembaga-lembaga vital seperti Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Bank Indonesia berisiko kehilangan independensi demi menjadi benteng penyelamat oligarki dan kerabat kekuasaan.
Wawat menilai, pengerahan otoritas keuangan saat ini bukan lagi berfokus pada pembenahan tata kelola, transparansi, dan kepastian hukum, melainkan telah bergeser menjadi pemadam kebakaran politik.
Wawat secara lugas mengkritik keras pengerahan regulator keuangan yang disinyalir kuat demi mengamankan panggung politik lingkaran dalam kekuasaan.
“Gara-gara ada misi penyelamatan dinasti Sumitro Djojohadikusumo dan keponakan, seluruh instrumen regulasi keuangan, mulai dari Kemenkeu, OJK, sampai bank sentral, akhirnya dikerahkan bukan untuk pembenahan tata kelola, melainkan menjadi tim pemadam kebakaran demi mengamankan panggung politik,“ tegas Wawat Kurniawan dalam pernyataannya, Kamis (22/10/2026).
Wawat menganalogikan pola ini layaknya doktrin militer mengenai misi penyelamatan atau rescue mission.
Ketika sosok di lingkaran utama kekuasaan menghadapi bahaya, seluruh instrumen dan regulasi negara dipaksa tunduk untuk menyelamatkan sosok tersebut dengan segala cara, mengabaikan standar akuntabilitas publik.
Lebih lanjut, Wawat memperingatkan bahwa upaya meyakinkan investor global dan lembaga pemeringkat internasional tidak akan mempan hanya melalui komunikasi politik atau lobi-lobi palsu jika transparansi dan kepastian hukum terus digerogoti.
“Pasar keuangan internasional tidak mengenal urusan titipan keponakan. Mereka membaca data, kepatuhan, dan kepastian hukum,” sentil Wawat pedas.
Ia menegaskan bahwa pelaku pasar internasional sangat peka terhadap keraguan atas independensi lembaga pengawas.
Ketika regulasi keuangan ditempatkan di bawah syahwat politik dinasti, kepercayaan pasar dipastikan akan hancur berantakan.
Wawat juga menguliti paradoks kepemimpinan yang makin telanjang di mata publik.
Di satu sisi, rakyat dipaksa berhemat, bekerja keras, dan menanggung beban krisis ekonomi yang kian berat.
Di sisi lain, energi dan sumber daya lembaga-lembaga negara justru habis terserap hanya untuk meredam kegaduhan dan mengamankan posisi keluarga pejabat.
Ia menuntut agar standar akuntabilitas dan hukum diberlakukan secara adil tanpa diskriminasi, termasuk kepada mereka yang berada di lingkaran pusat kekuasaan.
Potensi konflik kepentingan dan ancaman terhadap integritas negara tidak bisa ditutupi dengan retorika kosong.
Jika pemerintah terus membiarkan regulator keuangan dijadikan alat perlindungan dinasti, kredibilitas ekonomi Indonesia di mata dunia dan rakyat sendiri akan runtuh tanpa sisa!