DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto diingatkan untuk lakukan evaluasi peran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pemerintahan usai mendapat nilai di bawah 5 dalam survei CELIOS bersama Kabinet Bayangan.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, mengatakan, rendahnya penilaian terhadap Gibran mengindikasikan bahwa wakil presiden belum optimal membantu presiden menjalankan pemerintahan.
Padahal, posisi wakil presiden semestinya dapat meringankan beban kepala negara dalam mengurus berbagai persoalan nasional.
“Kiinerja Wapres Gibran rendah. Hal ini mengindikasikan Gibran bukan membantu meringankan tugas presiden tapi justru menjadi beban,” kata Jamiluddin dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Secara konstitusi krnegaraan, wakil presiden memiliki tugas membantu presiden menjalankan roda pemerintahan sehari-hari.
Selain itu, wakil presiden juga berperan dalam pengawasan, evaluasi, serta koordinasi kebijakan antarkementerian dan lembaga.
Apabila fungsi-fungsi tersebut dijalankan secara optimal, keberadaan wakil presiden semestinya memberikan kontribusi nyata terhadap efektivitas pemerintahan, kata Jamiluddin.
Namun, rendahnya penilaian terhadap kinerja Gibran dinilai dapat mengindikasikan bahwa pelaksanaan tugas tersebut belum berjalan maksimal.
“Karena itu, Wapres Gibran tampaknya memberi kontribusi kurangnya kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo. Ini artinya, presiden perlu mengevaluasi wapres agar tidak terus menerus menjadi beban,” ujarnya.
Jamiluddin menilai evaluasi terhadap Gibran penting dilakukan untuk melihat sejauh mana wakil presiden berkontribusi terhadap pelaksanaan program dan koordinasi pemerintahan.
Hasil survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan menunjukkan mayoritas masyarakat merasa stres dengan kebijakan pemerintah selama dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memaparkan, sebanyak 75 persen responden mengaku merasa stres dengan kebijakan pemerintah.
Kemudian secara khusus, 67 persen responden menyatakan stres dengan perilaku Prabowo.
“Kami coba menanyakan terkait dengan perasaan stres terhadap kebijakan pemerintah. Dari 1.122 responden, jawabannya, 75 persen itu merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan spesifik 67 persen stres dengan perilaku dari Prabowo Subianto,” kata Bhima dalam Peluncuran Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran yang digelar secara virtual, Minggu (11/10/2026).
Bhima menyebutkan kalau tiga hal yang paling menyebabkan masyarakat stres kebanyakan berkaitan dengan kenaikan harga bahan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, serta penegakan hukum.
Dalam survei yang sama, CELIOS juga bertanya soal kondisi fisik dan mental Presiden Prabowo untuk menjalankan tugas kepemimpinan.
Sebanyak 38 persen responden menilai kondisi fisik dan mental Presiden kurang baik.
Sementara itu, 23 persen menilainya tidak baik sama sekali.
“Sedangkan yang menjawab kondisi fisik dan mental Presiden untuk memimpin sangat baik hanya 8 persen,” kata Bhima.
Selain mengukur respons masyarakat, CELIOS turut meminta penilaian kalangan ahli terhadap kapasitas kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden Prabowo.
Dari 129 ahli yang memberikan penilaian, sebanyak 71 persen menilai kapasitas kepemimpinan tidak memadai.
Kekhawatiran juga muncul ketika para ahli diminta menilai gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Prabowo.
Sebanyak 83 persen menyatakan sangat khawatir, sedangkan 10 persen lainnya mengaku khawatir.
Dengan demikian, total 93 persen ahli menyatakan khawatir atau sangat khawatir terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden.