DEMOCRAZY.ID – Wacana masa jabatan presiden tiga periode memang tidak berujung pada perubahan konstitusi.
Namun, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menilai kegagalan rencana tersebut tidak serta-merta membuat Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) berhenti menyiapkan langkah politik setelah masa kepresidenannya berakhir.
Menurut Gatot, Jokowi bersama orang-orang di lingkarannya telah mempersiapkan sejumlah skenario politik sejak periode kedua pemerintahan.
Ketika rencana tiga periode tidak terealisasi, Gatot menyebut ada rencana lain yang kemudian dijalankan.
“Begitu gagal masuk, itu apa yang cadangan dibuka lagi kan, dengan Gibran,” ujar Gatot dalam keterangannya, dikutip Kamis (1/10/2026).
Gatot menilai Jokowi dan orang-orang di sekitarnya merupakan pihak yang memahami politik dengan baik.
Karena itu, menurut dia, langkah politik yang dilakukan sejak periode kedua tidak berdiri sendiri, melainkan sudah dipersiapkan untuk menghadapi situasi setelah Jokowi tidak lagi menjadi presiden.
“Pak Jokowi dengan orang-orang sekitarnya, mereka ini orang yang sangat teliti. Mereka paham benar tentang politik dan memang ketika periode kedua, itu Pak Jokowi sudah mempersiapkan arah politik selanjutnya, yaitu tiga periode,” kata Gatot.
Setelah wacana tersebut gagal, Gatot kemudian melihat munculnya Gibran sebagai bagian dari rencana cadangan yang menurutnya telah dipersiapkan sebelumnya.
Ia juga menyinggung sejumlah perubahan aturan dan kebijakan yang dinilainya berkaitan dengan pembangunan jaringan politik hingga tingkat akar rumput.
“Lihat saja ketika aturan tentang Pilpres berubah, sehingga harus ada Plt. Jokowi lah yang memberi nyaman kepala-kepala Desa, pimpinan akar rumput paling bawah. Ini kan tabungan,” lanjutnya.
Gatot juga menyebut Jokowi telah mempersiapkan sejumlah menteri yang menurutnya memiliki loyalitas.
Para menteri tersebut, kata dia, dipersiapkan untuk tetap memiliki peran dalam kehidupan politik setelah pemerintahan berganti.
“Kemudian sudah mempersiapkan juga menteri-menteri mana yang benar-benar loyal kepada Jokowi yang akan dimasukkan lagi pada perhidupan yang akan datang,” ungkapnya.
Menurut Gatot, yang perlu dilihat bukan hanya individu-individu yang berada di sekitar Jokowi, melainkan jaringan yang terbentuk dan kemungkinan tugas politik yang dibawa oleh masing-masing orang setelah meninggalkan pemerintahan.
“Begitu mau berangkat, pasti tugaskan, tugasmu itu ini loh. Gibran 2 tahun lagi, atau bagaimana tugasnya itu, nggak terlihat tapi kabutasi itu pasti ada. Bukan sekedar orang, tapi jaringan itu Presiden Prabowo pada tahun-tahun pertama sudah disibukkan oleh itu,” sebut Gatot.