DEMOCRAZY.ID – Kasus keracunan massa anak sekolah di Indonesia akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus terjadi di berbagai daerah.
Kondisi itu tentu saja sangat memprihatinkan bagi semua pihak terutama keluarga korban.
Mantan Sekretaris BUMN, Muhammad Said Didu bahkan mengkritik keras program MBG yang terus menimbulkan korban keracunan massa bagi pelajar.
Dia bahkan menilai kasus keracunan siswa itu sebagai wujud kesalahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Said Didu bahkan menyebutnya SPPG meracuni anak sekolah dengan menu MBG.
“Tiap hari SPPG meracun anak-anak pake uang negara dan mereka yg untung,” tegas Said Didu dikutip dari cuitan media sosialnya.
👇👇
Tiap hari SPPG meracun anak-anak pake uang negara dan mereka yg untung. https://t.co/QRDQ5rFksY
— Muhammad Said Didu (@msaid_didu) September 9, 2026
Pernyataan Said Didu itu merespons kasus keracunan massa terbaru yang terjadi di SMAN 1 Tunjungan Blora, yang mengakibatkan ratusan siswanya terdampak.
Laporan menyebutkan, kasus di SMAN 1 Tunjungan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah mengakibatkan sedikitnya 136 siswa dan guru keracunan massal usai mengonsumsi MBG.
Terkait peristiwa keracunan massal itu, Wakil Bupati Blora Sri Setyorini berjanji akan meminta dapur yang melayani sekolah tersebut dan mengakibatkan keracunan massal akan diusulkan untuk ditutup.
Penutupan dapur SPPG Sukorejo 2 setelah ratusan siswa SMAN 1 Tunjungan mengalami gejala keracunan.
Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) menambahkan, para siswa mengalami gejala sakit perut.
“Perutnya tadi setelah saya tanya mules-mules, pusing,” ujar Sri Setyorini kepada awak media.
Terkait siswa yang mengalami keracunan massa tersebut, mereka mendapat perawatan di fasilitas medis terdekat, termasuk klinik.
Sri Setyorini bahkan mengungkap, pihaknya sudah memberikan peringatan kepada SPPG Sukorejo 2 sebanyak dua kali setelah kejadian-kejadian sebelumnya.
Karena itu, kasus keracunan yang terjadi kali ini merupakan yang ketiga kalinya.
“Sudah kejadian 2 kali dan ini yang ketiga. Ya, kami mau enggak mau harus mengusulkan tutup,” kata dia.
Sebelumnya, kasus keracunan massal yang paling menyita perhatian yaitu yang terjadi di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Dalam peristiwa itu, ratusan siswa mengalami keracunan massal.
Parahnya lagi, salah seorang siswa yang menjadi korban dalam peristiwa itu hingga saat ini masih belum pulih.
Siswi bernama Febiola Purba bahkan harus berpindah-pindah rumah sakit untuk menjalani perawatan, namun tidak kunjung sembuh.
Kondisi siswi berprestasi yang disebut setiap semester juara satu itu saat ini bahkan semakin memprihatinkan.
Itu karena bakteri yang masuk pada tubuhnya telah mempengaruhi ingatannya.
Menurut orang tua siswi yang tercatat sebagai Wakil Ketua OSIS di sekolahnya itu, Febiola kehilangan ingatan hingga 70 persen.
Gambaran tersebut diperoleh orang tua korban sesuai penjelasan dokter yang menangani siswi tersebut selama proses perawatan.