Kemunculan Poros Baru! Duet KDM-Gibran Mencuat di Tengah Isu Retak Jokowi-Prabowo, Sinyal Kuat Aliansi Politik 2029?

DEMOCRAZY.ID – Wacana politik menuju Pemilu 2029 mulai memperlihatkan sejumlah simpul yang menarik.

Pernyataan kontroversial Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi, isu keretakan hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 Joko Widodo, hingga munculnya wacana duet Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kini berada dalam satu rangkaian pembicaraan politik.

Semuanya bermula dari pernyataan Budi Arie yang terekam dalam sebuah forum bersama Jokowi.

Budi Arie kala itu berbicara mengenai kemungkinan terjadinya perubahan politik, termasuk kemungkinan Pemilu 2029 berlangsung lebih cepat apabila terjadi kondisi tertentu.

Potongan pernyataan tersebut kemudian viral dan memunculkan tafsir bahwa wacana itu berkaitan dengan sikap politik Jokowi.

Budi Arie kemudian melakukan klarifikasi.

Ia menegaskan bahwa pernyataan mengenai kemungkinan percepatan Pemilu 2029 merupakan analisis dan pandangan pribadinya, bukan sikap Jokowi.

Ia juga menegaskan Jokowi tidak memberikan arahan maupun tanggapan khusus atas pernyataan tersebut.

Namun, klarifikasi itu tidak serta-merta mengakhiri tafsir politik.

Pasalnya, beberapa hari kemudian Budi Arie kembali membicarakan kemungkinan perubahan konfigurasi politik ketika hadir dalam podcast Akbar Faizal Uncensored bersama pengamat politik Adi Prayitno, Rabu (2/9/2026).

Dalam perbincangan tersebut, Budi Arie mengatakan kelompoknya tetap siap bekerja sama dengan pemerintahan Prabowo-Gibran.

Tetapi ia juga memberikan sinyal bahwa terdapat kemungkinan mengambil jalan sendiri apabila tidak lagi diajak bekerja sama.

“Diajak kita pasti masuk untuk membangun dan memajukan negara. Kalau tidak diajak, ya kita punya sikap,” kata Budi.

Pernyataan itu menjadi penting karena dibicarakan ketika spekulasi mengenai masa depan hubungan politik Jokowi dan Prabowo kembali menguat.

Sejumlah pengamat sebelumnya memang telah membaca adanya tanda-tanda kerenggangan antara kedua tokoh tersebut, meski belum terdapat bukti terbuka bahwa keduanya telah memutus hubungan politik.

Dalam podcast yang sama, Adi Prayitno bahkan menyebut fenomena yang ditunjukkan Budi Arie sebagai kemungkinan munculnya “oposisi dari dalam”.

Menurut dia, persoalannya menjadi menarik karena Budi Arie dan Projo selama ini berada dalam lingkaran politik Jokowi, sementara Jokowi dan putranya, Gibran, masih menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo-Gibran.

“Projo itu bagian dari Pak Jokowi. Pak Jokowi itu adalah Gibran. Gibran adalah bagian dari pemerintahan ini,” ujar Adi.

Dari sinilah pembicaraan kemudian bergerak lebih jauh ke arah peta politik 2029.

Adi menilai Jokowi tidak bisa selamanya bergantung pada konfigurasi politik yang ada sekarang.

Jika masa depan duet Prabowo-Gibran untuk periode kedua belum memiliki kepastian, menurut dia, Jokowi perlu mulai membangun basis kekuatan politik sendiri.

Dalam pembacaan Adi, dua kartu politik besar yang dimiliki Jokowi saat ini adalah Gibran dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Safari politik Jokowi ke sejumlah daerah pun dibaca sebagai bagian dari proses konsolidasi politik, meski tafsir tersebut belum menjadi keputusan politik resmi.

Menariknya, di tengah pembicaraan mengenai kemungkinan perubahan poros tersebut, nama Dedi Mulyadi atau KDM tiba-tiba muncul sebagai figur yang dianggap memiliki kedekatan karakter politik dengan Jokowi.

Budi Arie bahkan memberikan penilaian cukup spesifik.

Ia menyebut persoalan politik Indonesia ke depan tidak hanya membutuhkan kemampuan memenangkan suara rakyat, tetapi juga kemampuan mengelola pemerintahan.

“Populismenya Gibran, teknokrasinya adalah KDM,” kata Budi Arie.

Menurutnya, KDM memiliki gaya politik yang dekat dengan masyarakat dan memiliki langgam yang dianggap mirip dengan Jokowi.

Ia juga mengakui terdapat hubungan dan komunikasi antara Jokowi dengan Dedi Mulyadi.

Pernyataan tersebut kemudian dibaca Adi sebagai salah satu sinyal bahwa KDM mulai masuk dalam radar opsi politik di sekitar Jokowi.

“Kalau melihat puji-pujian Pak Budi Ari ke KDM, tanda-tanda ke arah itu sepertinya mulai menebal,” ujar Adi.

Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa KDM saat ini masih merupakan bagian dari Gerindra dan secara terbuka masih menunjukkan komitmennya kepada Prabowo.

Karena itu, menurut dia, belum tepat menyimpulkan bahwa KDM akan meninggalkan Prabowo atau Gerindra.

Yang membuat rangkaian peristiwa tersebut menarik adalah kemunculannya yang hampir bersamaan.

Di satu sisi, Budi Arie berbicara mengenai “retakan sejarah” dan kemungkinan perubahan politik.

Di sisi lain, isu mengenai hubungan Jokowi dan Prabowo kembali menjadi bahan pembicaraan.

Pada saat yang sama, mulai muncul pula wacana mengenai duet Gibran-KDM untuk 2029.

Bahkan sebelum podcast tersebut, usulan Gibran-Dedi Mulyadi sebagai pasangan Pilpres 2029 telah disampaikan ke publik oleh pihak yang mengaku sebagai Ketua Perkumpulan Anak Jokowi (PAJO).

Usulan tersebut menambah warna pada spekulasi mengenai kemungkinan konfigurasi politik baru menjelang 2029.

Belum ada keputusan bahwa Jokowi akan meninggalkan Prabowo, belum ada keputusan bahwa Gibran akan berduet dengan KDM, dan belum ada pula pernyataan resmi bahwa kelompok Jokowi sedang menyiapkan poros baru.

Namun, jika seluruh peristiwa tersebut dibaca sebagai rangkaian, muncul satu pertanyaan politik yang sulit diabaikan: apakah lingkaran Jokowi sedang mulai menyiapkan opsi apabila duet Prabowo-Gibran tidak berlanjut pada 2029?

Budi Arie sendiri tidak memberikan jawaban tegas. Ia hanya menegaskan bahwa politik adalah “seni kemungkinan”.

Artikel terkait lainnya