DEMOCRAZY.ID – Hasil survei mengenai tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto pada periode Juli-Agustus 2026 menjadi sorotan.
Dua lembaga survei, Indonesia Political Opinion (IPO) dan Tempo Data Science, menghasilkan angka yang terpaut cukup jauh.
Perbedaan tersebut disoroti strategis media dan konsultan politik Muchlis Ainur Rofik.
Melalui akun X pribadinya, Muchlis membandingkan hasil survei kedua lembaga tersebut.
“Approval Rating IPO vs Tempo,” tulis Muchlis dalam unggahannya yang dikutip Kamis (3/9/2026).
Berdasarkan survei IPO yang dirilis pada Agustus 2026, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencapai 63 persen.
Angka tersebut menunjukkan mayoritas responden menyatakan puas terhadap kinerja pemerintahan.
Sementara itu, hasil survei Tempo Data Science yang dirilis pada akhir Agustus 2026 menunjukkan angka yang jauh lebih rendah.
Tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tercatat 37 persen.
Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 26 poin persentase antara kedua hasil survei tersebut.
Namun, dalam unggahannya, Muchlis sempat menuliskan angka 40 persen ketika menyebut hasil survei Tempo.
Angka tersebut berbeda dengan angka 37 persen yang disebut dalam hasil survei terbaru Tempo Data Science.
👇👇
Approval Rating IPO vs Tempo
IPO dan Tempo melakukan survei di waktu yg sama: Akhir Juli ke Agustus.
Jumlah respondennya juga dekat: IPO 1200, Tempo 1260. Margin of Errornya sama, 2,9%.
Kenapa hasilnya beda jauh?
Baca JugaApproval rating Presiden versi IPO, 63%.
Approval rating… pic.twitter.com/4mvhISaoNz— muchlis a rofik (@muchlis_ar) September 2, 2026
Muchlis kemudian membandingkan metodologi dasar kedua survei tersebut.
Menurut dia, salah satu persamaannya adalah periode pelaksanaan survei yang relatif berdekatan.
IPO dan Tempo Data Science sama-sama melakukan survei pada akhir Juli hingga Agustus 2026.
“IPO dan Tempo melakukan survei di waktu yang sama: Akhir Juli ke Agustus,” ujar Muchlis.
Dari sisi jumlah responden, perbedaannya juga relatif kecil.
Muchlis menyebut survei IPO melibatkan sekitar 1.200 responden, sedangkan Tempo Data Science menggunakan sekitar 1.260 responden.
Ia juga menyebut kedua survei memiliki margin of error 2,9 persen.
“Jumlah respondennya juga dekat: IPO 1200, Tempo 1260. Margin of Errornya sama, 2,9%,” kata Muchlis.
Meski dilakukan dalam periode yang berdekatan dan memiliki jumlah responden serta margin of error yang disebut relatif mirip, hasil approval rating kedua survei tersebut berbeda cukup signifikan.
Versi IPO menunjukkan tingkat kepuasan 63 persen, sedangkan Tempo Data Science berada di kisaran 37 persen.
Perbedaan sebesar puluhan poin tersebut tidak bisa dijelaskan hanya dengan margin of error.
Sebab, margin of error menggambarkan ketidakpastian statistik dari sampel, bukan penyebab otomatis terjadinya perbedaan sebesar itu.
Perbedaan hasil survei dapat dipengaruhi sejumlah faktor lain, antara lain metode pengambilan sampel, karakteristik responden, pertanyaan yang diajukan, cara pengumpulan data, periode lapangan, hingga metode pengolahan dan pembobotan data.
Karena itu, membandingkan angka survei secara langsung perlu melihat metodologi masing-masing lembaga secara keseluruhan, bukan hanya jumlah responden dan margin of error.
Muchlis juga membandingkan hasil survei dari lembaga lain yang melakukan penelitian pada periode berdekatan.
Ia menyebut hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia memiliki perbedaan yang relatif tipis dan masih berada dalam rentang margin of error.
“Lihat hasil survei SMRC dan Indikator yang waktunya berdekatan. Hasilnya beda tipis, masuk margin of error,” ujar Muchlis.
Perbandingan tersebut kemudian mendorong Muchlis meminta media ikut membantu publik memahami mengapa hasil survei IPO dan Tempo Data Science bisa menghasilkan angka yang berbeda jauh.
Menurut Muchlis, publik tidak cukup hanya disodori angka hasil survei.
Perbedaan hasil yang signifikan juga perlu dijelaskan agar masyarakat memahami konteks di balik angka tersebut.
“Media mestinya membantu publik mencari kejelasan perbedaan hasil survei yang cukup jauh antara IPO dan Tempo,” katanya.
Ia bahkan mengusulkan agar media menghadirkan para ahli dan perwakilan lembaga survei untuk menjelaskan perbedaan tersebut secara terbuka.
“Undang panel ahli. Undang lembaga-lembaga ini untuk menjelaskan,” pungkasnya.
Perbedaan hasil survei tersebut pada akhirnya menunjukkan pentingnya publik melihat hasil jajak pendapat tidak hanya dari angka approval rating, tetapi juga dari metode, periode survei, karakteristik responden, serta pertanyaan yang digunakan masing-masing lembaga.
Dengan begitu, angka survei dapat dibaca secara lebih proporsional dan tidak serta-merta dianggap sebagai gambaran tunggal mengenai tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah.