DEMOCRAZY.ID – Satu dari delapan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga direkrut menjadi tentara Rusia bertempat tinggal di Kota Depok, Jawa Barat.
Ketua RT 2 RW 6, Rangkapan Jaya, Depok, Safarudin, menceritakan sosok WOI.
“WOI itu secara data KTP betul adalah warga sini. Tapi setahu saya memang saya juga jarang ketemu. Jadi dia memang gaulnya di luar. Gaulnya di luar, kalaupun ketemu ya saya hello saja, gitu,” ujar Safarudin saat ditemui detikcom di Rangkapan Jaya, Kamis (3/9/2026).
“Sangat-sangat jarang ketemu. Dia gaulnya di luar. Terakhir saya ketemu kalau enggak salah awal-awal tahun ini lah,” tambahnya.
Safarudin menjelaskan, orang tua WOI memiliki latar belakang militer, tapi kini keduanya sudah pensiun dan meninggal dunia.
Di rumah orang tuanya tersebut, WOI tinggal bersama kakaknya.
“Itu kan dulu orang tuanya memang di sini. Rumahnya rumah orang tuanya. Kemudian, orang tuanya kan meninggal dua-duanya. Jadi sekarang rumah itu ditinggalnya sama kakaknya, kakaknya yang perempuan. Orang tuanya pensiunan TNI AL,” jelasnya.
Sepengetahuan Safarudin, WOI tidak memiliki pekerjaan.
Meski rumahnya dekat dengan kediaman WOI, Safarudin jarang melihat WOI keluar rumah beraktivitas.
“Setahu saya nggak, ya. Nggak ada. Jadi boleh dibilang pengangguran, ya. Cuma masalahnya kan nggak, nggak kelihatan tiap hari nih orangnya. Artinya kan di luar saya nggak tahu di luar apa yang dikerjakan, gitu,” jelasnya.
Safarudin kaget setelah mengetahui salah seorang warganya diduga menjadi tentara Rusia.
Keterkejutan Safarudin lantaran WOI dinilai jarang bersosialisasi dengan para tetangga.
“Pertama saya mendengarnya tuh kemarin malah, ya. Kemarin kebetulan dari siapa ya kemarin? Saya dengarlah itu kan. Cuma kalau dikatakan syok, ya dibilang syok karena itu warga saya. Dibilang tidak tidak kaget pun ya karena memang tidak terlihat mata setiap harinya, gitu. Artinya, memang dia dibilang warga secara data iya, tapi secara aktivitas kan nggak pernah kelihatan di sini, gitu,” ucapnya.
Menurut Safarudin, sosok WOI bukan warga yang pendiam atau lugu.
Di sisi lain, menurut Safarudin, WOI tak pernah menimbulkan masalah dengan sesama warga di lingkungannya.
“Setahu saya, bandelnya itu bandel bukan kriminal gitu, bukan. Bandelnya tuh anak itu, songong gitu, gimana sih songong? Selotokan kali, ya? Nah, nggak tahu lah istilahnya apa tuh. Jadi bukan, bukan seorang pendiam, bukan seorang yang yang istilahnya, lugu bukan,” tuturnya.
“Tapi sebetulnya nggak, nggak pernah sih bikin onar di lingkungan RT 2 mah. Nggak pernah ada konflik dengan lingkungan sini, ya, RT 2. Nggak pernah,” imbuhnya.
Kantor Imigrasi Kota Depok sebelumnya mengungkapkan bahwa WOI pernah mengurus paspor.
WOI beralasan untuk bisnis sepatu dan tas bermerek.
“Hasil wawancara tersebut, WOI menyampaikan (membuat paspor) karena tujuannya untuk wisata ke Malaysia dan usaha mendukung usahanya sebagai penjual sepatu dan tas branded secara online di Depok,” kata Kepala Imigrasi Depok Irvan Triansyah kepada wartawan, Kamis (3/9).
Irvan mengatakan WOI membuat atau memperpanjang masa aktif paspornya pada 6 April lalu menggunakan M-Paspor.
Saat diwawancarai, WOI mengaku ingin berwisata ke Malaysia dan mengaku bekerja sebagai wiraswasta.
“Karena memang tidak ada penerbangan langsung ke Rusia, ya. Kalau dari hasil wawancara, yang bersangkutan tujuannya wisata. Kalau berdasarkan datanya itu sebagai karyawan wiraswasta, wiraswasta,” ungkapnya.
Seperti diketahui, ada laporan delapan WNI yang direkrut oleh angkatan bersenjata Rusia untuk bertempur dalam perang melawan Ukraina, menurut laporan yang diterbitkan Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina pada 27 Agustus melalui Telegram.
Menurut The New Voice of Ukraine, badan tersebut menyatakan telah memperoleh dokumen yang mengonfirmasi perekrutan tersebut.
Media tersebut mengatakan bahwa upaya tersebut memungkinkan Kremlin untuk menambah kekuatan pasukannya dengan memanfaatkan warga negara asing sebagai bagian dari propaganda.
Sementara itu, dalam keterangan tertulis di Jakarta, juru bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, memastikan pihaknya terus memverifikasi informasi terkait WNI yang diduga bergabung dengan angkatan bersenjata Rusia melalui perwakilan RI serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
Yvonne menyatakan bahwa pemerintah Indonesia juga akan mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, atau perekrutan melalui tawaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya terhadap para WNI tersebut.