Ekspektasi Manis Berakhir Tragis: Dulu Dipuji, Kini MBG Dapat ‘Rapor Merah’ dari Publik!

DEMOCRAZY.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat rapor merah dari publik. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menjalankan program tersebut hanya mencapai 42,1 persen.

Temuan itu berdasarkan survei Poltracking Indonesia.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda mengatakan angka tersebut menunjukkan tren penurunan penilaian publik terhadap kinerja BGN.

Padahal, MBG sejak awal merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang mendapat dukungan positif dari masyarakat.

“MBG ini adalah program yang positif secara gagasan, visi yang didukung,” kata Yuda dalam tayangan Poltracking TV, Senin (31/8/2026).

Menurut Yuda, dukungan terhadap MBG bahkan telah terlihat sejak program tersebut menjadi bagian dari tawaran Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024.

Pasangan tersebut kemudian memenangkan Pilpres dengan perolehan 58,58 persen suara.

Tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan juga sempat berada di angka 78 persen dan terakhir tercatat 72 persen secara keseluruhan.

Namun, ketika publik diminta menilai pelaksanaan MBG, tingkat kepuasannya justru jauh lebih rendah.

Yuda menyebut hanya 42,1 persen responden yang puas terhadap kinerja BGN dalam menyelenggarakan program tersebut.

“Begitu tingkat kepuasannya sangat relatif rendah, hanya 42,1 persen. Ini menunjukkan bahwa kinerja ada tingkat tren penurunan terhadap kinerja Badan Gizi Nasional,” ujarnya.

MBG Populer, tapi Banyak yang Tak Puas

Rendahnya kepuasan tersebut tidak berbanding lurus dengan popularitas MBG.

Program tersebut diketahui hampir seluruh masyarakat dengan tingkat pengetahuan mencapai 93,9 persen.

Namun, popularitas tinggi tidak otomatis membuat publik puas terhadap implementasinya.

Sebanyak 49,2 persen responden menyatakan sangat tidak puas dan kurang puas terhadap pelaksanaan MBG.

Angka ketidakpuasan tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan tingkat kepuasan.

“Yang menilai sangat tidak puas dan kurang puasnya sekarang lebih tinggi, yaitu 49,2 persen mengatakan tidak puas,” katanya.

Yuda melihat kondisi tersebut sebagai kesenjangan antara gagasan awal MBG yang mendapat apresiasi dengan pelaksanaannya di lapangan.

Menurutnya, persoalan penerjemahan kebijakan, implementasi, hingga eksekusi membuat persepsi publik terhadap program tersebut berubah.

“Meskipun program awalnya diapresiasi positif, tetapi karena penerjemahannya, implementasinya, eksekusinya dalam persepsi publik menjadi negatif,” ujar Yuda.

Karena itu, Yuda menilai hasil survei tersebut harus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera membenahi penyelenggaraan MBG.

“Lagi-lagi MBG bisa dikatakan rapor merah, peringatan penting bagi pemerintah untuk memperbaiki dari sisi penyelenggaraan,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya