Steve Hanke vs Prabowo: Mengapa Pakar Ekonomi Dunia Ini Begitu Gencar Mengkritik Kebijakan RI?

DEMOCRAZY.ID – Nama Steve Hanke mencuat lagi belakangan karena kritiknya yang tajam ke pemerintahan Prabowo.

Tapi untuk paham kenapa ia segarang itu, kita harus mundur ke tahun 1998. Di situlah kunci ceritanya.

Siapa Hanke? Ia profesor di Johns Hopkins dan mantan penasihat ekonomi Presiden AS Ronald Reagan.

Kariernya mentereng, tapi di Indonesia ia punya satu cerita yang membekas yaitu kekalahan pribadinya di hadapan IMF.

Ceritanya di tahun 1998 saat krisis melanda, Hanke dipanggil Soeharto.

Ia datang dengan resep andalan Currency Board—mengikat keras rupiah ke dolar secara permanen. Ia yakin itu satu-satunya jurus penyelamat.

Tapi rencana itu kandas. IMF menekan Soeharto dengan ancaman akan mencabut paket bantuan US$ 43 miliar. Soeharto mundur, dan ide Hanke ikut terkubur. Sejak hari itu, ia merasa tersisih.

Baginya, ini bukan sekadar beda pendapat, tapi idenya yang “tepat” digagalkan paksa oleh kekuatan asing (IMF). Luka itu membekas 27 tahun lamanya.

Kenapa kini ia vokal mengkritik ke Prabowo?

Karena ia melihat pola yang sama. Menurutnya, program makan bergizi dan defisit yang membengkak adalah deja vu 1998: fiskal kendor, uang beredar tak terkendali, dan rupiah tertekan.

Ia geram karena merasa Indonesia mengulangi kesalahan yang dulu ia peringatkan.

Namun netizen pendukung pemerintah malah menuding kritiknya karena bisnis CPO-nya terganggu ekspor satu pintu.

Tuduhan ini jelas salah. Hanke memang commodity trader, tapi itu artinya ia main di pasar keuangan, bukan punya kebun sawit.

Jejak bisnisnya hanya di sektor logam dan material non-energi. Tidak ada satu pun afiliasi dengan CPO Indonesia. Gelar profesor kehormatan di UPH pun urusan akademik, bukan bisnis.

Kritik keras Hanke bukan karena kantongnya digaruk, melainkan karena trauma sejarah dan obsesi ideologis.

Ia adalah pengamat luar yang membawa “beban” 1998, bukan eksportir yang dirugikan.

Artikel terkait lainnya