DEMOCRAZY.ID – Kematian tragis taruna dek asal India, Aditya Sharma, dalam serangan militer Amerika Serikat terhadap kapal tanker minyak MT Settebello di dekat Selat Hormuz pada Juni 2026, telah memicu perdebatan sengit dan polarisasi di media sosial India.
Kematian pria berusia 23 tahun itu menjadi sorotan di India setelah diketahui ayahnya, Rajesh Sharma, seorang pengusaha India yang aktif menyuarakan dukungan terhadap genosida yang dilakukan ‘Israel’ dalam perang Gaza melalui media sosial.
Menurut Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), seperti dilansir First Post (11/6/2026), kapal MT Settebello yang berbendera Palau berlayar di perairan Teluk Oman menjadi sasaran pada 19 Juni 2026.
Diduga kapal ini telah melanggar blokade maritim yang diberlakukan Washington.
Rudal yang menghantam ruang mesin kapal menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan tiga awak berkewarganegaraan India, termasuk Aditya Sharma. Sebanyak 21 awak lainnya berhasil diselamatkan.
Setelah kabar duka tersebut menyebar dan sang ayah, Rajesh Sharma, meminta bantuan publik untuk melacak keberadaan anaknya, netizen India menemukan jejak digital masa lalu Rajesh di platform X (Twitter).
Situasi ini membelah opini publik secara tajam di jagat maya:
Kematian para pelaut komersial ini direspons serius secara diplomatik.
Kementerian Luar Negeri India telah memanggil Kuasa Usaha (Charge d’Affaires) AS di New Delhi untuk menyampaikan protes diplomatik keras (demarche).
Pemerintah India menegaskan bahwa serangan terhadap kapal komersial yang mengangkut kru tidak bersenjata merupakan pelanggaran hukum maritim internasional, sementara Rajesh Sharma menuntut penyelidikan menyeluruh terhadap kapten kapal yang tetap memaksakan tanker melintasi zona bahaya meski ada peringatan militer.