DEMOCRAZY.ID – Sebanyak 28 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), Gowa, Sulsel, dikabarkan diancam drop out (DO) alias dikeluarkan dari kampus.
Ancaman itu muncul diduga setelah mereka berani melakukan kritik terhadap dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) milik kampusnya sendiri.
Dugaan mahasiswa Unhas terancam DO karena jadi pengkritik MBG, diunggah akun Instagram @pustakayuridis melalui kolaborasi @unhas.distopia pada Jumat 12 Juni 2026.
Konten akun anonim itu menarasikan ancaman DO bermula dari unggahan akun organisasi mahasiswa yang berisi kritik atas dapur MBG Unhas.
Potsingan itu memancing ketidaknyamanan seorang alumni Teknik Unhas.
Alumni tersebut disebut mengurus dapur MBG Unhas atau SPPG 14 Tamalanrea hingga dicap “Kak SPPG” oleh akun IG @unhas.distopia.
“Alumni itu kemudian diperintahkan oleh Dekanat Fakultas Teknik untuk mengidentifikasi & memberi ultimatum (ancaman Drop Out) kepada mahasiswa yang mengkritik program MBG yang dikelola Unhas,” berikut narasi konten akun pustakayuridis.
Ancaman DO itu akan ditindaklanjuti dalam Majelis Kode Etik Mahasiswa (MKEM) Fakultas Teknik kalau mahasiswa masih saja terus melakukan kritik terhadap program itu.
unhas.distopia menyatakan, MKEM bakal menjerat mahasiswa dengan pasal perilaku tidak menyenangkan jika mengkritik MBG.
Konten itu langsung disukai 4.000 lebih akun hingga di-repost 601 pascasatu hari diunggah di Instagram.
Kabar tak sedap itu dijawab Kabid Humas Kantor Sekretariat Rektor Unhas, Ishaq Rahman. Ia membantah informasi miring ancaman skorsing maupun DO mahasiswa, terutama menyangkut dapur MBG.
“Sehubungan informasi ini, kami tegaskan bahwa hal ini (ancaman) tidak benar. Tidak ada keputusan skorsing apapun yang diambil Fakultas maupun Rektorat Unhas yang berhubungan dengan aksi kritik terhadap MBG,” klaim Ishaq dalam keterangan tertulisnya, mengutip Sabtu 16 Juni 2026.
Menurut dia, Unhas tetap menjunjung tinggi kebebasan akademik, kebebasan menyampaikan pendapat, dan memberikan ruang dialog yang sehat dan beretika di lingkungan kampus.
Sumber: Konteks