DEMOCRAZY.ID – Wacana menduetkan Prabowo dengan kader PDI-P pada pilpres 2024 sempat mencuat dan kemungkinan pada 2029 juga muncul wacana tersebut.
Untuk mengamankan posisi Gibran sebagai Calon wakil presiden pada 2029 Jokowi harus mampu meloloskan PSl ke Senayan, jika PSl gagal lolos ke Senayan posisi Gibran terancam oleh calon lain, seperti Puan (PDIP) dan AHY (Demokrat).
Jika Gibran gagal maju sebagai Cawapres 2029 hancur sudah dinasti politik yang direncanakan Jokowi.
Untuk mewujudkan dinasti politik, Jokowi harus rela membatalkan niatnya yang ingin pulang kampung dan beristirahat dari dunia politik. Karena 2029 adalah “hidup mati” Dinasti Jokowi.
Makanya walau sakit-sakitan, tetap harus keliling Indonesia.
***
Pengajar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai cara Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali ke lapangan adalah untuk mengamankan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden.
“Kalau saya justru lebih condong ke arah bagaimana mengonsolidasi kekuatan-kekuatan politik Pak Jokowi supaya terasosiasi dengan PSI dan Gibran Rakabuming Raka,” kata Adi dalam acara Satu Meja The Forum Kompas TV, Rabu (28/5/2026).
Adi mengatakan, Jokowi hari ini sangat identik dengan PSI, terlebih ketua umum partai tersebut adalah anak bungsunya, Kaesang Pangarep.
Namun narasi blusukan Jokowi juga tak bisa dilepaskan dengan anak sulungya, Gibran Rakabuming Raka yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden.
Menurut Adi, Jokowi berharap pada efek memutar blusukan yang diarahkan ke PSI dan juga diarahkan pada Gibran.
“Pernyataan Pak Jokowi selalu mengatakan bahwa Prabowo-Gibran dua periode, artinya sampai 2034,” katanya.