DEMOCRAZY.ID – Teras Cihampelas, ikon jembatan pedestrian layang yang dahulu menjadi kebanggaan Kota Bandung, kini bersiap diratakan dengan tanah.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah mengambil alih rencana pembongkaran mahakarya Ridwan Kamil tersebut setelah hasil kajian mengungkap berbagai masalah fatal, mulai dari ketiadaan izin bangunan hingga alih fungsi menjadi lokasi maksiat.
Padahal, pada awal peresmiannya di tahun 2017, proyek penataan pedagang kaki lima ini sempat menuai pujian setinggi langit dari Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan digadang-gadang sebagai model percontohan nasional dalam menata ruang kota tanpa penggusuran.
Teras Cihampelas merupakan satu di antara karya Ridwan Kamil saat menjabat sebagai Wali Kota Bandung.
Setelah rampung, Teras Cihampelas atau jembatan pedestrian layang (skywalk) itu pernah dikunjungi Jokowi.
Kala itu, tujuan Teras Cihampelas dibangun untuk menata Pedagang Kaki Lima (PKL) agar tidak memenuhi trotoar bawah, sekaligus memberikan ruang pejalan kaki yang nyaman di kawasan wisata belanja Cihampelas.
Seiring berjalannya waktu, Teras Cihampelas yang telah berusia sembilan tahun sudah tak terawat.
Selain itu, pemanfaatan Teras Cihampelas itu juga tidak efektif lagi, sepi dan tak sesuai fungsinya hingga menimbulkan masalah sosial.
Beberapa waktu lalu, Teras Cihampelas menjadi tempat mesum dan maksiat.
Sebelum adanya rencana pembongkaran, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan hanya berencana melakukan revitalisasi.
Wali Kota Bandung itu juga mengungkap, Teras Cihampelas sudah ditutup bagi pengunjung.
Namun, setelah ada usulan dari Dedi Mulyadi, kini Teras Cihampelas diambil alih untuk dilakukan pembongkaran.
Berdasarkan kajian, Teras Cihampelas ternyata sudah menghadapi permasalahan perizinan yakni tidak memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF), sehingga layak dibongkar karena kelayakan struktur bangunannya bermasalah.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan Dedi Mulyadi, menyusul pembongkaran Teras Cihampelas yang akan diambil alih oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar).
“Iya, Teras Cihampelas dalam sebuah dialog saya sama Pak Dedi Mulyadi bilang sama provinsi dibongkarnya, tapi izin pembongkarannya dari kita. Ya sudah kita sedang mengupayakan izin pembongkaran sekarang,” ujar Farhan ditemui di Balai Kota Bandung, Senin (12/1/2026).
Dua bulan setelah diresmikan Ridwan Kamil pada Februari 2017, Teras Cihampelas dikujungi Presiden ke-7 Jokowi pada April 2017.
Kala itu kedatangan Jokowi didampingi oleh Iriana sebagai Ibu Negara, disambut Ridwan Kamil yang menjabat Wali Kota Bandung.
Jokowi pun mengapresiasi inovasi Teras Cihampelas, dan menyebutnya sebagai model penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sangat baik karena tidak menggusur, melainkan menaikkan level pedagang ke tempat yang lebih bersih dan modern.
Dalam kunjungannya, Jokowi sempat mengatakan, Teras Cihampelas bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam menyelesaikan masalah kemacetan dan ketidakteraturan PKL di trotoar.
Jokowi dan Iriana juga menyempatkan berinteraksi dengan pedagang dan membeli beberapa produk lokal, termasuk jaket dan suvenir, sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi kreatif Bandung.
Pembongkaran Teras Cihampelas di Kota Bandung, akan diambil alih oleh Pemprov Jabar karena rencana tersebut sudah diminta Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi.
Terkait anggaran, teknis pembongkaran, dan waktunya hingga saat ini masih belum bisa dipastikan. Namun, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan memastikan saat ini Teras Cihampelas sudah ditutup bagi pengunjung.
“Tergantung belum ketemu detail (pembongkaran), tapi kalau sekarang yang pasti bagian atas sudah ditutup. Para pelaku UMKM akan kita arahkan ke bawah nanti,” kata Farhan.
Kemudian untuk pedestrian beserta tiang, kata Farhan, sudah dibersihkan dan lampu pun sudah menyala.
Sedangkan waktu pembongkaran, pihaknya berharap bisa dilakukan secepatnya, tetapi tetap tergantung keluarnya izin.
“Izinnya diajukan macam-macam dari mulai DPRD sampai Kementerian Keuangan. Untuk tiang Teras Cihampelas itu semuanya ada 69,” katanya.
Sementara untuk PKL, kata Farhan, akan disediakan tempat khusus, tepatnya di bawah Flyover Pasupati dan nantinya tempat tersebut akan dijadikan salah satu tempat wisata kuliner di Kota Bandung.
Berdasarkan jejak perkembangannya sejak diresmikan pada 2017, Teras Cihampelas tercatat telah melalui 2 kali upaya revitalisasi besar sebelum akhirnya muncul wacana pembongkaran di tahun 2026 ini.
Revitalisasi pertama terjadi pada akhir tahun 2021 – 2022. Saat itu, Teras Cihampelas sempat terbengkalai dan sepi akibat pandemi Covid-19.
Kemudian Pemerintah Kota Bandung melakukan perbaikan pertama.
Saat itu, perbaikan dilakukan terhadap fasilitas fisik yang rusak seperti lantai kayu yang bolong, pengecatan ulang besi yang berkarat, serta perbaikan sistem pencahayaan (lampu taman).
Revitalisasi itu dilakukan untuk menarik kembali pedagang yang sempat turun ke jalan bawah dan coba menghidupkan kembali ikon wisata tersebut, termasuk menghidupkan kembali perekonomian akibat pandemi Covid-19.
Kemudian revitalisasi kedua terjadi pada tahun 2023, Pemerintah Kota Bandung kembali melakukan upaya “penghidupan” dengan konsep yang lebih tematik.
Seperti penambahan fasilitas pendukung seperti area co-working space, tempat pertunjukan seni mini, dan penambahan tanaman hias.
Pemerintah mencoba mengubah fungsi Teras Cihampelas tidak hanya sebagai tempat belanja, tapi juga sebagai ruang publik kreatif bagi anak muda Bandung.
Sumber: Tribun