DEMOCRAZY.ID – Utang pemerintah tercatat hampir menembus Rp 10.000 triliun, tepatnya mencapai Rp 9.920,42 triliun hingga akhir Maret 2026.
Nilai tersebut meningkat Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi pada akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun.
Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan posisi utang pemerintah masih dalam kategori aman.
Menurut dia, hal itu tercermin dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 40,75%, atau masih jauh di bawah ambang batas 60%.
“Kalau kita lihat acuan yang paling ketat di Eropa, rasio utang ke PDB berapa? 60%. Kita masih jauh, kenapa lu nanya lagi? Masih aman, masih sekitar 40% lebih sedikit, jadi aman,” kata Purbaya dalam media briefing di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026).
Purbaya juga menyebut rasio utang Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pengelolaan utang pemerintah dilakukan secara hati-hati dan terukur.
“Singapura 180%, Malaysia 60% lebih, Thailand juga berapa? Tinggi semua. Kita termasuk paling hati-hati dibanding negara-negara sekeliling kita. Dibanding AS juga, dibanding Jepang,” ungkap Purbaya.
“Jadi kalau lihat dari itu, harusnya Anda puji-puji kita. Cuma enggak pernah kan? Kenapa Anda lihat dari sisi negatif terus?” pungkas Purbaya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan jawaban menohok merespons anggapan pemerintah kerap tarik utang. Menurutnya, rasio utang RI masih lebih baik dibandingkan banyak negara lainnya.
Dia menanggapi adanya pandangan kalau negara kerap mengambil utang. Namun, kata dia, utang produktif dan terukur diperlukan untuk ekspansi, layaknya perusahaan.
“Jadi begini, orang bilang kok negara utang. Cuma kalau sama dengan perusahaan, kalau mau ekspansi, kalau dia punya prospek yang bagus, dia pasti utang. Yang penting adalah acuan-acuan yang menunjukkan bahwa utang itu berkesinambungan, masih kita turuti,” tutur Purbaya seperti dikutip dari wawancara Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Minggu (10/5/2026).
Pada konteks fiskal, misalnya, paling ketatnya diatur defisit anggaran 3 persen dengan rasio utang 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kita di bawah 3 persen defisitnya dan rasio utang ke PDB-nya masih sekitar 40 persen,” tegasnya.
Jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara saja misalnya, Purbaya mengatakam kinerja RI masih lebih baik dari sisi rasio utang.
Beberapa negara yang tumbuh cepat bahkan memiliki ruang defisit dan rasio utang lebih lebar.
“Di sini aja, di ASEAN saja kita masih paling jago, apalagi di dunia. Singapura saja rasio utang ke PDB-nya hampir 180 persen. Kita lebih jago dari mereka. India, pertumbuhannya lebih cepat dari kita, tapi rasio defisitnya ke PDB 4 persen lebih, tahun sebelumnya malah 8 persen,” jelas dia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap sumber pendanaan defisit APBN 2026. Menurut dia, ruang untuk menutup defisit dari utang masih masuk akal.
Dia menjelaskan, ruang defisit APBN diperkirakan masih dalam batas yang ditentukan. Adapun, defisit APBN bakal ditekan hingga di bawah 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Ada, kalau defisit tambah kan, dari awal kan nambah sedikit tapi masih dalam limitnya. Ada penambahan utang tapi sebetulnya masih terkendali,” kata Purbaya seperti dikutip dari wawancara Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Minggu (10/5/2026).
per Maret 2026, defisit APBN tembus Rp 240,1 triliun. Menurutnya angka ini masih bisa ditambal dari perolehan pajak sepanjang tahun kedepan.
“Oh dari pajak aja. Itu kan masih masuk-masuk desain, cuma di (pos) belanja kan, belanjanya dipercepat. Nanti kan ada siklus, biasanya pendapatan pajak meningkat di triwulan-triwulan tertentu. Tapi kan belanjanya sudah sebagian di depan, nanti kan ke belakangnya akan berkurang sedikit,” urainya.
Dia menjelaskan, defisit APBN masih dalam batas target yang ditentukan sebesar 2,68 persen PDB.
Bendahara Negara ini tetap menghitung kemungkinan naiknya harga minyak dunia. Meskipun begitu, defisit APBN tidak sampai jebol di atas 3 persen.
“Kita akan tekan terus di bawah 3 persen untuk defisit tahun ini. Tergantung nanti harga minyaknya berapa ya, averagenya. Yang jelas kita sudah hitung dengan harga minyak rata-rata 100 dolar sampai akhir tahun, defisitnya masih di sekitar 2,9 (persen),” tuturnya.
Sumber: Liputan6