Tragedi Ekologis Terkuak! Media Asing Kuliti Habis ‘Kebobrokan’ Penguasa di Balik Tragedi Karhutla Indonesia!

DEMOCRAZY.ID – Media Inggris BBC membuat laporan soal kebakaran hutan di Indonesia yang terus berulang selama beberapa dekade atau 10 tahun. Masalah itu tidak kunjung beres.

Dalam laprorannya, BBC menuliskan bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia merupakan dampak nyata dari pengeringan lahan gambut serta alih fungsi hutan skala besar yang telah berlangsung sejak era Soeharto.

Peneliti dan lembaga lingkungan menemukan fakta bahwa ekspansi perkebunan komersial serta konsesi kayu industri menjadi dalang utama pembakaran lahan secara murah dan masif.

“Masalah kebakaran hutan di Indonesia sudah berlangsung selama beberapa dekade,” begitu judul tulisan BBC.com.

Pola pembakaran skala industri ini berbanding terbalik dengan tradisi berladang giliran yang dipraktikkan oleh masyarakat adat Kalimantan selama berabad-abad.

Masyarakat lokal hanya membakar lahan kecil secara terkendali untuk mengembalikan kesuburan tanah melalui abu sisa pembakaran.

Perwakilan masyarakat adat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, Tono, menegaskan bahwa tradisi berladang uma bukit dijalankan dengan aturan adat yang sangat ketat.

“Ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa, melainkan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Tono.

Setiap keluarga hanya menggarap lahan di bawah dua hektar dan wajib menggelar ritual adat sebelum melakukan pembukaan lahan.

“Praktik ini berakar pada upaya menjaga keseimbangan alam dan wujud rasa syukur kepada para leluhur,” ujar Tono.

Setelah dipanen beberapa tahun, lahan tersebut dibiarkan mengering dan pulih kembali secara alami sementara petani berpindah ke plot lain.

Metode rotasi alamiah ini menjaga struktur ekosistem tanah agar tidak rusak atau terbakar tanpa kendali.

Masyarakat adat secara tegas menolak tuduhan yang menyebut metode berladang tradisional sebagai pemicu kebakaran hutan berskala nasional.

Tono menyatakan bahwa masyarakat Dayak kerap dijadikan kambing hitam atas bencana karhutla, padahal mereka selalu merencanakan pembakaran dengan kehati-hatian tinggi.

“Masyarakat Dayak sering dijadikan kambing hitam, padahal pembukaan lahan dilakukan dengan perencanaan matang dan kehati-hatian yang tinggi,” ungkap Tono.

Hasil riset terhadap gelombang kebakaran besar pada 1982 dan 1997 membuktikan pola penunjukan kesalahan yang tidak adil oleh otoritas.

Pemerintah kala itu lebih sibuk menyalahkan petani kecil dan masyarakat adat dibandingkan menindak korporasi industri di Kalimantan.

Secara teknis, pemeringan lahan gambut untuk pembukaan perkebunan kelapa sawit dan kayu komersial membuat bentang alam sangat rentan terbakar berulang kali.

Kondisi kemarau ekstrem akibat El Niño memang mempercepat penyebaran api, namun aktivitas manusia dalam alih fungsi lahan masiflah yang memperparah kabut asap.

Krisis kebakaran hutan di Indonesia bukanlah fenomena baru, melainkan akumulasi dari kebijakan tata guna lahan yang keliru selama puluhan tahun.

Sejak era Orde Baru, kawasan hutan hujan dan lahan gambut luas di Kalimantan dibuka secara masif untuk proyek pembangunan skala besar, pembalakan kayu, dan perkebunan.

Dampak dari pembukaan lahan skala besar tersebut merusak sistem penyerapan air alami gambut sehingga menciptakan bahan bakar kering yang mudah tersulut.

Akibatnya, kebakaran lahan industri meluas tanpa kendali serta memicu dampak kesehatan masyarakat dan kerusakan lingkungan dalam skala global.

Artikel terkait lainnya