DEMOCRAZY.ID – DAJJAL adalah salah satu tokoh eskatologis (akhir zaman) yang sangat terkenal dalam tradisi Islam.
Dalam banyak hadis Nabi Muhammad ﷺ, Dajjal digambarkan sebagai sosok fitnah terbesar menjelang hari kiamat: bermata satu, bisa melakukan hal-hal luar biasa seperti menghidupkan orang mati, menurunkan hujan, hingga menipu umat manusia dengan sihir dan tipu daya.
Namun bagaimana jika kita mencoba memandang sosok ini dari sudut pandang sains modern? Apakah Dajjal hanyalah simbol?
Ataukah benar-benar makhluk biologis yang akan datang? Atau mungkin ia adalah representasi dari teknologi atau sistem global tertentu?
Berikut ulasan tentang Dajjal dalam perspektif sains:
Beberapa pemikir dan peneliti muslim modern menafsirkan Dajjal bukan sebagai sosok manusia secara fisik, tapi sebagai simbol dari kekuatan global yang menyesatkan umat manusia.
Dalam konteks ini, Dajjal bisa dipahami sebagai sistem:
Dalam perspektif ini, Dajjal adalah simbol dari fitnah besar yang membuat manusia jauh dari agama dengan cara halus, ilmiah, dan sistematis.
Maka dari itu, fitnah Dajjal adalah “mata satu” — yang bisa dimaknai sebagai cara pandang tunggal terhadap dunia: hanya berdasarkan logika materi dan mengabaikan ruhani.
Dalam hadis-hadis Shahih, Dajjal disebut bisa:
Jika dilihat dari sudut sains, kemampuan ini tidak lagi mustahil secara teknologi. Misalnya:
Maka sebagian ilmuwan muslim berspekulasi: mungkinkah Dajjal adalah produk dari sains dan teknologi tanpa iman?
Ada spekulasi dari kalangan konspirasi dan beberapa penulis Muslim bahwa eksperimen ilmiah ekstrem seperti yang dilakukan di laboratorium fisika CERN (European Organization for Nuclear Research), bisa membuka “portal dimensi lain” yang membuka jalan bagi kemunculan makhluk seperti Dajjal.
Walaupun belum ada bukti ilmiah tentang hal ini, sains memang telah memasuki ranah yang semakin dalam — hingga berbicara tentang multi-dimensi, lubang hitam mikro, dan antimateri.
Semua ini membuka kemungkinan tentang eksistensi entitas dari dimensi lain, yang secara agama bisa saja termasuk jin, malaikat, atau makhluk akhir zaman seperti Dajjal.
Sains tidak bisa membuktikan atau membantah sepenuhnya eksistensi Dajjal.
Sebab, sains hanya bekerja berdasarkan pengamatan (empiris) dan eksperimen, sementara keberadaan Dajjal termasuk dalam ghaib yang diyakini melalui wahyu.
Namun, sains bisa membantu manusia membaca tanda-tanda zaman, seperti berkembangnya teknologi yang bisa digunakan untuk kejahatan massal, atau kemunculan sistem dunia yang mengontrol kehidupan manusia secara total — sesuai dengan gambaran fitnah Dajjal.
Transhumanisme adalah gerakan yang mendorong integrasi antara manusia dan teknologi, seperti chip otak, peningkatan genetik, dan implan kecerdasan buatan.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan manusia super yang bisa mengontrol tubuh, pikiran, bahkan umur mereka.
Sebagian ulama dan ilmuwan melihat ini sebagai cikal bakal fitnah Dajjal. Mengapa?
Karena Dajjal dalam hadis seolah memiliki kekuatan seperti Tuhan.
Transhumanisme juga ingin manusia mencapai “kemampuan Tuhan” — seperti tidak mati, menciptakan makhluk, dan mengetahui segalanya.
Ini membuka ruang bagi penafsiran bahwa fitnah Dajjal bisa datang lewat proyek ilmiah yang dibungkus atas nama kemajuan, tapi sebenarnya menjauhkan manusia dari iman dan fitrah.
Dalam Islam, fitnah Dajjal adalah ujian besar yang tidak bisa dihadapi hanya dengan kecerdasan, teknologi, atau logika.
Hanya iman yang kuat, ilmu yang benar, dan amal saleh yang mampu menyelamatkan dari fitnah ini.
Sains bisa menjelaskan sebagian aspek, tapi tidak bisa menggantikan peran wahyu.
Oleh karena itu, memahami Dajjal dalam perspektif sains bukan untuk menggantikan keyakinan, tapi untuk membaca zaman dengan lebih kritis, agar umat Islam tidak tertipu oleh kemajuan teknologi yang justru membawa kepada kesesatan.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barangsiapa hafal 10 ayat pertama dari Surah Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)
Wallahu a’lam.