DEMOCRAZY.ID – Gelombang kemarahan global menyapu Gedung Putih setelah Presiden Donald Trump mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya sebagai sosok Yesus Kristus dengan mengenakan jubah dan seperti menyembuhkan orang sakit.
Aksi ini tidak hanya memicu perpecahan di basis pendukung setianya, tetapi juga memancing kecaman diplomatik tajam dari pemimpin tertinggi Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahkan secara terbuka mengutuk tindakan Trump tersebut sebagai bentuk penistaan terhadap nilai-nilai suci keagamaan.
Kecaman ini muncul setelah Trump terlibat perseteruan publik dengan Paus Leo XIV dimana meski sebagai Paus berkebangsaan Amerika pertama, Paus Leo mengecam kebijakan perang AS di Selat Hormuz.
“Saya mengutuk penghinaan terhadap Yang Mulia (Paus) atas nama bangsa Iran yang agung. Penodaan terhadap Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan, tidak dapat diterima oleh siapa pun yang merdeka,” tegas Pezeshkian dalam pernyataan resminya, Senin (14/4/2026).
Kepada Paus Leo, Pezeshkian menyebut bahkan mendoakan kemuliaan bagi Paus dari Allah, atas apa yang sudah diterimanya dari Trump.
“Saya mendoakan kemuliaan bagi Anda demi Allah,” tulis Pezeshkian kepada Paus Leo, dalam sebuah unggahan di akun X-nya pada hari Senin.
Kontroversi bermula saat Trump mengunggah gambar AI di Truth Social yang memperlihatkan dirinya mengenakan jubah putih dan selendang merah.
Dalam gambar tersebut, tangan Trump tampak bersinar dengan “cahaya ilahi” saat menyentuh pasien rumah sakit, dikelilingi perawat dan tentara yang menatap penuh kekaguman di bawah bayang-bayang malaikat.
Meskipun Trump kemudian menghapus unggahan tersebut dan berdalih bahwa gambar itu hanyalah representasi dirinya sebagai “dokter yang menyembuhkan,” publik telanjur meradang.
Tokoh konservatif Marjorie Taylor Greene bahkan menyebut unggahan tersebut “lebih dari sekadar penistaan” dan membawa “roh Antikristus.”
Ketegangan agama ini diperparah oleh serangan verbal Trump terhadap Paus Leo.
Trump menyebut Paus “lemah” dan “buruk untuk kebijakan luar negeri” setelah Vatikan mendesak adanya perdamaian di tengah serangan AS terhadap Iran.
Trump bahkan mengklaim secara sepihak bahwa jabatan Paus yang disandang Leo adalah berkat pengaruhnya di Gedung Putih.
“Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,” tulis Trump, sebuah pernyataan yang dianggap merendahkan otoritas spiritual tertinggi umat Katolik tersebut.
Situasi ini menciptakan kecanggungan luar biasa di dalam kabinet Trump sendiri.
Sebagian besar orang kepercayaan Trump, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Marco Rubio, dan Robert Kennedy Jr., adalah penganut Katolik taat.
Di sisi lain, tokoh seperti Pete Hegseth dan Susie Wiles berasal dari latar belakang Protestan yang sangat menjunjung tinggi kerendahan hati spiritual.
Kritikus konservatif Michael Knowles dan influencer Riley Gaines mendesak Trump untuk menunjukkan kerendahan hati.
“Tuhan tidak boleh diperolok-olok,” ujar Gaines tajam.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana simbol keagamaan dapat menjadi titik sensitif dalam politik global.
Bagi banyak umat, figur Yesus bukan sekadar simbol, melainkan pusat iman yang tidak boleh dipolitisasi.
Di sisi lain, kontroversi ini juga menunjukkan retaknya dukungan internal terhadap Trump, bahkan dari kalangan religius yang selama ini menjadi basis kuatnya.
Di tengah gejolak religius ini, realitas perang tetap membayangi.
AS telah memulai blokade brutal di Selat Hormuz, menyebabkan harga minyak mentah melonjak 8 persen hingga menyentuh angka $100 per barel.
Dengan inflasi yang mengancam keluarga Amerika di SPBU, kontroversi “Trump-Yesus” ini dianggap sebagai distraksi spiritual yang berbahaya di tengah krisis keamanan global yang nyata.
Sumber: Tribun