Geger Temuan Survei Tempo: Elektabilitas Dedi Mulyadi Meroket Salip Prabowo, Istana Panik Hadapi Peta 2029!

DEMOCRAZY.ID — Peneliti politik dan publik Saidiman Ahmad membeberkan hasil temuan menarik dari survei Tempo Data Science yang merekam peta elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), berhadapan dengan Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan hasil survei tersebut, elektabilitas KDM tercatat jauh melampaui Prabowo.

Menariknya, kader Partai Gerindra itu diklaim mampu menyapu bersih dukungan dari dua kutub pemilih yang berbeda, baik dari kelompok masyarakat yang merasa puas maupun yang tidak puas terhadap kinerja pemerintah.

“Ternyata KDM tidak hanya mengambil suara lebih banyak dari pemilih yang tidak puas dengan kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, arah bangsa, serta pelaksanaan program MBG dan KDMP. Mereka yang puas sekali pun juga lebih banyak memilih KDM dibanding Prabowo,” tulis Saidiman melalui akun X pribadinya, dikutip Jumat (4/9/2026).

Melihat tren dukungan yang lintas segmen tersebut, Saidiman menilai situasi ini mengindikasikan adanya pergeseran legitimasi politik yang merugikan posisi Prabowo.

Dominasi Hasil Survei Tempo Data Science

Berdasarkan data yang dirilis dari survei yang dilangsungkan pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026, Dedi Mulyadi kokoh menduduki peringkat puncak dengan raihan elektabilitas menembus 41 persen dalam kategori Top of Mind, jauh meninggalkan Prabowo yang sekadar mengantongi 15 persen.

Keunggulan telak serupa juga terlihat dalam simulasi terbuka bursa calon presiden.

KDM memimpin di angka 43 persen, disusul Prabowo di posisi kedua dengan 15 persen, Anies Baswedan 10 persen, serta Gibran Rakabuming Raka yang meraup 6 persen suara.

Survei yang sama turut merekam tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan yang berada di angka 37 persen, berbanding terbalik dengan 68 persen responden yang memandang kondisi perekonomian nasional tengah berada dalam tren buruk atau kian memburuk.

Tingginya tingkat ketidakpuasan publik inilah yang secara linier bermuara menjadi limpahan dukungan elektoral bagi KDM sebagai figur alternatif di mata pemilih.

Artikel terkait lainnya