DEMOCRAZY.ID – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memicu perhatian masyarakat internasional.
Lonjakan titik api yang diperparah oleh fenomena iklim El Nino tidak hanya memicu dampak lingkungan dan kesehatan di dalam negeri, tetapi juga mengirimkan kabut asap pekat ke negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Fenomena tahunan yang kembali berulang ini mendulang sorotan tajam dari berbagai media internasional dengan beragam sudut pandang, mulai dari krisis kesehatan masyarakat, penyelamatan satwa langka, hingga riak diplomasi antarnegara.
Media internasional Al Jazeera menyoroti dampak buruk kabut asap lintas batas yang melumpuhkan aktivitas publik di Malaysia dan Singapura.
Pemerintah Malaysia terpaksa meliburkan sekolah di Kuala Lumpur, Putrajaya, serta lima negara bagian lainnya yang berdampak pada sekitar dua juta siswa setelah Indeks Pencemar Udara (IPU) menembus angka tidak sehat.
Dikutip dari Al Jazeera, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan keprihatinannya secara terbuka atas krisis udara ini.
“Isu kabut asap ini memang berada pada tingkat yang membimbangkan,” tegas Anwar Ibrahim sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Selain memicu penutupan sekolah, Al Jazeera juga melaporkan bahwa Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat lebih dari 170.000 kasus infeksi saluran pernapasan akibat paparan asap karhutla.
Media asal Singapura, Mothership.SG, mengulas sudut pandang dari pihak pemerintah Indonesia terkait krisis kabut asap ini.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Syahganda Nainggolan, menyatakan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini merupakan fenomena alam di luar kendali manusia.
“Kami berharap negara tetangga memahami bahwa ini di luar human error; ini benar-benar fenomena alam,” ujar Syahganda Nainggolan kepada media sebagaimana dikutip dari Mothership.SG.
Tidak hanya itu, Syahganda juga mengingatkan kontribusi ekologis hutan Indonesia bagi negara tetangga ketika tidak terjadi kebakaran.
“Kami tidak hanya mengirimkan kabut asap. Saat tidak ada kabut asap, kami mengirimkan oksigen. Oksigen dari Singapura dan Malaysia itu kan berasal dari hutan kami,” ungkapnya.
Dari sudut pandang konservasi lingkungan, media asal Jepang The Japan Times menyoroti nasib satwa liar endemik yang habitatnya hangus terbakar di Kalimantan Barat.
Sebanyak delapan ekor orangutan yang berhasil diselamatkan dari kobaran api di sekitar kawasan perkebunan akhirnya dilepasliarkan kembali ke Hutan Lindung Batu Nyambu.
CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Karmele Llano Sanchez, menekankan pentingnya tindakan penyelamatan darurat saat habitat asli satwa rusak.
“Perlindungan habitat akan selalu menjadi prioritas utama untuk memastikan orangutan terus memiliki hutan yang aman untuk ditinggali, namun selama habitat mereka tetap terancam, penyelamatan adalah salah satu opsi terbaik yang dapat kita ambil untuk membantu mereka bertahan hidup,” tutur Sanchez sebagaimana dilansir The Japan Times.
Media asal Malaysia, The Star, menggarisbawahi perluasan sebaran titik api yang kini merambat ke luar enam provinsi prioritas karhutla.
Kebakaran lahan kini dilaporkan terdeteksi di wilayah Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, hingga Papua Tengah, di samping krisis kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA) di Ternate.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan upaya teknis yang dilakukan tim gabungan di lapangan.
“Pemerintah daerah juga menggali parit menggunakan alat berat untuk mencegah api menyebar di bawah permukaan lahan gambut,” kata Berton Panjaitan dalam pernyataan resmi yang dikutip The Star.
Penanganan di lapangan terus diupayakan meski petugas harus menghadapi kendala angin kencang, asap tebal, serta karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan.