WeKa Institute Soroti Langkah Hashim Adik Prabowo: Bidik Penguasaan 12,7 Juta Hektare Lahan Sawit!

DEMOCRAZY.ID – CEO WeKa Institute, Wawat Kurniawan, melontarkan kritik tajam terhadap rencana pengembangan perkebunan kelapa sawit berskala besar yang dikaitkan dengan dukungan terhadap proyek biodiesel B50 dan B100.

Melalui pernyataannya yang bernada satir, Wawat menyindir kegigihan Presiden Prabowo Subianto dalam memperjuangkan agenda politik maupun kebijakan yang diyakininya.

Wawat mengawali kritiknya dengan mengungkapkan kekaguman terhadap kegigihan Prabowo dalam menapaki perjalanan politik hingga berkali-kali mengikuti pemilihan presiden.

“Jujur, gue salut pada kegigihan Prabowo dan keluarganya. Tidak heran ngotot ikut pilpres sampai empat kali,” ujar Wawat dalam pernyataannya, Sabtu (24/10/2026).

Namun, nada pernyataan tersebut berubah menjadi sindiran ketika Wawat menyinggung cara pandang terhadap kelapa sawit dan persoalan deforestasi.

Menurut dia, pernyataan yang menyamakan sawit dengan pohon serta sikap tidak takut terhadap deforestasi menggambarkan pendekatan pembangunan yang perlu dikritisi secara serius, terutama apabila ekspansi perkebunan dilakukan dengan mengorbankan kawasan hutan.

“Kalau dia sudah bicara, pokoknya sawit juga pohon. Lalu disambung, gue tidak takut deforestasi. Gas!” kata Wawat.

Ia kemudian mengibaratkan sikap tersebut dengan peribahasa, “Sekali layar berkembang, pantang untuk pulang sebelum menyelesaikan tujuan.”

Bagi Wawat, peribahasa itu menggambarkan tekad untuk terus bergerak mencapai tujuan.

Namun, dalam persoalan lingkungan, kegigihan mengejar target pembangunan semestinya tetap mempertimbangkan daya dukung alam dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Wawat juga menyoroti angka 12,7 juta hektare yang disebutnya berkaitan dengan rencana penanaman kelapa sawit oleh Hashim Djojohadikusumo untuk mendukung pengembangan biodiesel B50 dan B100.

Rencana dalam skala tersebut, menurut kritik yang disampaikan Wawat, patut diuji secara terbuka.

Pemerintah perlu menjelaskan kebutuhan lahan, sumber pembukaan kawasan perkebunan, serta kemungkinan dampaknya terhadap hutan dan lingkungan.

Pengembangan biodiesel memang diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Namun, tujuan tersebut tidak otomatis menjadikan seluruh bentuk ekspansi perkebunan sawit bebas dari persoalan lingkungan.

Apabila perluasan perkebunan bergantung pada pembukaan hutan alam, kebijakan energi yang dimaksudkan untuk mendukung kemandirian nasional justru berpotensi menimbulkan persoalan ekologis baru.

Karena itu, target produksi biodiesel perlu disertai perhitungan kebutuhan bahan baku, produktivitas perkebunan yang sudah ada, serta kemungkinan pemanfaatan lahan terdegradasi tanpa merusak ekosistem hutan yang masih tersisa.

Bagian paling tajam dari pernyataan Wawat muncul ketika ia membandingkan angka 12,7 juta hektare dengan angka 8,3 juta hektare kerusakan hutan yang disebutnya.

“Sekarang hutan yang rusak baru 8,3 juta hektare. Masih kurang 4,3 juta hektare hutan yang harus dirusak. Gas terus!” sindirnya.

Wawat juga menyindir kecenderungan meremehkan jumlah korban akibat kerusakan lingkungan dengan hanya melihat angka statistik.

“Rakyat mati, sakit, hitung saja angka statistiknya. Kecil itu,” demikian sindiran Wawat.

Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang kerap luput dalam perdebatan pembangunan, yakni dampak lingkungan terhadap kehidupan manusia.

Kerusakan hutan dapat meningkatkan risiko banjir dan longsor di wilayah tertentu, mengganggu sumber penghidupan masyarakat, serta mengancam keanekaragaman hayati.

Besarnya dampak bergantung pada lokasi, karakteristik ekosistem, dan bentuk perubahan penggunaan lahan.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, persoalan tersebut bukan hanya perdebatan mengenai angka hektare.

Mereka juga berhadapan dengan risiko kehilangan sumber air, perubahan mata pencaharian, dan meningkatnya kerentanan terhadap bencana.

Artikel terkait lainnya