Terpisah Jarak 857 KM: Prabowo Pimpin Rapat Kabinet di Jakarta, Gibran Malah Pilih Sibuk Sendiri di Pesantren!

DEMOCRAZY.ID – Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto, pada 20 Oktober 2026, peran wakil presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan.

Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menilai keterlibatan Gibran dalam sejumlah forum pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan terlihat sangat terbatas.

Bivitri menyoroti dokumentasi dan siaran langsung sejumlah rapat kabinet yang dipimpin Presiden Prabowo.

Menurutnya, Gibran tidak terlihat dilibatkan dalam beberapa forum penting tersebut sehingga memunculkan pertanyaan mengenai porsi kewenangannya dalam pemerintahan.

“Bahkan kita melihat sendiri melalui rekaman-rekaman dan melalui siaran langsung dalam beberapa rapat kabinet, ia tidak diikutsertakan. Jadi, sebenarnya kita juga kurang jelas apa perannya. Jadi, kalau saya melihat, memang sangat minimal,” ujar Bivitri.

Bivitri menilai minimnya keterlibatan Gibran dalam sejumlah forum pemerintahan tidak semestinya dipandang sekadar persoalan teknis.

Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan pola koordinasi dan hubungan kerja antara presiden dan wakil presiden.

Terbaru saat Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat kabinet di Istana Bogor pada Jumat 16 Oktober 2026, Gibran tidak hadir.

Mengutip dari laporan laman resmi Wapres, Gibran di tanggal itu diketahui berada di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (PP Dalwa), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Artinya saat Presiden Prabowo mengundang seluruh kabinet Merah Putih di Istana Bogor menyambut Wakil PM Rusia, Gibran berjarak 857 km jauhnya.

Gibran hadir untuk bersilaturahmi dengan para Kiai Sepuh, Ibu Nyai, dan jajaran pengasuh Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah.

Kunjungan Wapres di PP Dalwa ini, dalam rangka meninjau pelatihan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligance/AI) dan robotik bagi para santri dan tenaga pengajar.

“Alhamdulillah pelatihan AI & robotic bagi para santri bisa terlaksana berkat dukungan Kyai & Bu Nyai,” ujar Wapres Gibran.

Survei CELIOS Ungkap Penilaian Buruk terhadap Kabinet

Sorotan terhadap posisi Gibran muncul bersamaan dengan hasil survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) periode September-Oktober 2026 yang dikutip dalam laporan tersebut.

Survei terhadap kelompok ahli itu menunjukkan penilaian yang rendah terhadap kinerja Kabinet Merah Putih.

Berdasarkan hasil yang dipaparkan, nilai rata-rata kabinet hanya mencapai 2,9 dari skala 10.

Sebanyak 69 persen responden ahli memberikan skor dalam rentang 1 hingga 3, sementara 29 persen memilih nilai terendah, yakni 1.

Penilaian negatif juga muncul dalam survei terhadap masyarakat umum.

Sebanyak 40 persen responden publik memberikan nilai 1 hingga 3 untuk kinerja kabinet secara keseluruhan.

Meski demikian, hasil survei tersebut perlu dibaca sesuai metodologi dan karakteristik respondennya.

Laporan yang tersedia menyebut kelompok ahli dipilih menggunakan metode snowball sampling, sehingga hasilnya tidak serta-merta dapat dianggap mewakili seluruh pendapat masyarakat Indonesia.

Artikel terkait lainnya