Politisi PSI Sebut Kesalahan Gibran Cuma Satu: Mau Dampingi Prabowo!

DEMOCRAZY.ID – Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, melontarkan pembelaan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dia menilai, satu-satunya kesalahan Gibran adalah bersedia mendampingi Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024, meski harus menghadapi berbagai risiko politik.

Menurut Dedy, keputusan Gibran terjun ke panggung politik nasional justru menunjukkan keberanian mengambil tanggung jawab besar.

Padahal, sebagai anak muda sekaligus putra mantan Presiden Joko Widodo, Gibran dinilai bisa saja memilih menjalani kehidupan pribadi bersama keluarganya tanpa terlibat dalam dinamika politik nasional.

“Kesalahan Gibran Rakabuming Raka itu cuma satu, ia bersedia mendampingi Prabowo Subianto dengan segala jenis risikonya,” kata Dedy dalam pernyataannya di X, dikutip pada Rabu (14/10/2026).

Dedy menilai, pilihan Gibran tersebut menjadi kekuatan tersendiri di tengah kondisi politik Indonesia yang menurutnya masih diwarnai konflik antarelite.

Dia berpandangan, keterlibatan Gibran dapat menjadi simbol kehadiran generasi muda yang bersedia mengambil peran dalam menentukan arah masa depan bangsa.

Menurut Dedy, Gibran seolah ingin menyampaikan pesan bahwa anak muda tidak seharusnya hanya menjadi penonton dalam dinamika politik nasional.

“Ia memilih mengambil tanggung jawab besar itu secara bersemangat dan dengan lantang di atas panggung sejarah ia bersuara, ‘Saya sudah ada di sini’,” ujarnya.

Dedy juga menyoroti sikap apatis sebagian anak muda terhadap politik.

Dia menilai, kejenuhan tersebut tidak terlepas dari perilaku elite politik yang kerap mempertontonkan konflik dan perseteruan di ruang publik.

Menurut dia, politik semestinya menjadi ruang untuk membangun persatuan serta memperkuat rasa senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa.

Namun, perilaku sebagian elite justru dinilai lebih sering memicu pertentangan dibandingkan membangun kebersamaan.

Dalam pandangannya, Gibran mungkin melihat perlunya pendekatan berbeda untuk menjawab persoalan tersebut.

Namun, keputusan untuk terjun langsung ke panggung politik nasional membuat Gibran menghadapi berbagai kritik dan serangan dari sejumlah kelompok.

Dedy bahkan melontarkan kritik keras terhadap kelompok elite yang dinilainya terus menyasar Gibran.

Dia mengibaratkan cara berpikir sebagian elite tersebut seperti sistem operasi lama yang sudah tidak bisa diperbarui dan hanya layak dibuang atau dijadikan barang antik.

Pernyataan itu menjadi bentuk kritik Dedy terhadap pola pikir politik yang dianggapnya sudah tidak relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Dedy menegaskan, dirinya akan terus menyuarakan dukungan terhadap Gibran.

Dia mengaku memiliki kedekatan perspektif dengan Wapres tersebut karena berasal dari generasi yang hampir seumuran.

Meski menyadari dukungannya mungkin hanya bisa disampaikan melalui media sosial, termasuk platform X, Dedy menyatakan ingin mendorong anak-anak muda untuk bersatu menghadapi pola pikir politik yang dianggapnya usang.

Dia berharap generasi muda tidak terus terjebak dalam pola politik lama yang dinilai menghambat perubahan.

Bagi Dedy, momentum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memutus rantai persoalan sejarah dan mendorong lahirnya cara pandang baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di akhir pernyataannya, Dedy menyampaikan pesan langsung kepada Gibran agar tetap bertahan menghadapi tekanan politik.

“Ayo Gibran jangan takut, jangan menyerah dan jangan melemah. Siapkan kendaraan tempur sejak saat ini, mari kita menangkan kembali suara-suara anak muda yang ditindas oleh keuzuran zaman,” tuturnya.

Pernyataan Dedy tersebut menegaskan dukungannya terhadap Gibran di tengah dinamika politik nasional.

Namun, pandangannya mengenai motif kritik terhadap Gibran dan perilaku elite politik merupakan penilaian pribadi yang disampaikannya dalam pernyataan tersebut.

Artikel terkait lainnya