Anies Buka Suara Soal Gagal Jadi Presiden dan Tak Bisa Nyagub: Demokrasi Dalam ‘Bahaya Besar’!

DEMOCRAZY.ID – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan buka suara soal pengalamannya gagal kembali bertarung dalam kontestasi politik.

Setelah kalah dalam Pilpres 2024, Anies juga tidak dapat maju dalam Pilkada 2024.

Hal itu ditanyakan motivator Merry Riana dalam sebuah podcast yang diunggah melalui kanal YouTube pribadi Anies.

Merry bertanya apakah kegagalan di Pilpres atau tidak bisa bertanding di Pilkada lebih menyakitkan bagi Anies.

“Tapi mana yang lebih menyakitkan, menyakitkan kalau di Pilpres atau tidak bisa bertanding di Pilkada sama sekali?” tanya Merry seperti dikutip, Selasa (6/10/2026).

Anies tidak menjawab pertanyaan tersebut dari perspektif kekalahan atau kekecewaan pribadi.

Ia justru menggeser pembahasan pada persoalan demokrasi.

“Kalau buat saya, tidak ada soal sakit atau tidak. Ini adalah warning tentang demokrasi kita. Ini bukan tentang pribadi, demokrasi ini harus dijaga,” jawab Anies.

Anies kemudian menjelaskan alasan mengapa ia melihat persoalan tersebut sebagai peringatan bagi demokrasi.

Ia menyebut ada tiga kondisi yang menurutnya menjadi tanda demokrasi berada dalam bahaya.

Pertama, ketika perangkat yang seharusnya menjadi penyangga demokrasi disebut berada dalam kendali pihak tertentu.

“Kalau wasit dikendalikan, penyangga dikendalikan,” kata Anies.

Menurut dia, persoalan berikutnya adalah ketika pihak yang menjadi lawan politik tidak lagi memiliki ruang untuk berkompetisi.

“Yang kedua, lawan ditiadakan,” ujarnya.

Ketiga, Anies menyoroti perubahan aturan main.

Ia menilai aturan yang terus diubah dapat menjadi persoalan serius apabila perubahan tersebut memengaruhi kompetisi politik.

“Yang ketiga, aturan main diubah-ubah berarti ini demokrasi kita dalam bahaya,” tegasnya.

Anies menegaskan kembali bahwa dirinya tidak ingin menempatkan pengalaman politik tersebut sebagai persoalan personal.

Menurut dia, yang jauh lebih penting adalah memastikan mekanisme demokrasi tetap berjalan dengan adil, termasuk keberadaan wasit yang independen, kesempatan bagi lawan politik untuk berkompetisi, serta aturan yang tidak berubah-ubah demi kepentingan tertentu.

“Ketika salah, kejadian-kejadian yang terjadi, maka yang dalam bahaya demokrasi kita, ini bukan soal Anies,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan posisi Anies bahwa pengalaman politik yang dialaminya tidak semata-mata ia lihat sebagai kegagalan pribadi.

Ia menjadikannya sebagai momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya menjaga kualitas demokrasi dan aturan main dalam kontestasi politik.

[VIDEO]

Artikel terkait lainnya