GEGER! Media Inggris Bongkar ‘Data Asli’ Kasus Keracunan MBG Yang Selama Ini Ditutupi

DEMOCRAZY.ID – Media Inggris melaporkan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu krisis kesehatan di Indonesia setelah hampir 2.000 warga yang mayoritas anak sekolah diduga keracunan sejak Selasa (01/09) hingga Kamis (03/09).

Insiden tragis ini meluas di empat provinsi, meliputi Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, Kabupaten Rembang di Jawa Tengah, Kabupaten Agam di Sumatra Barat, hingga Tana Toraja di Sulawesi Selatan.

Petaka akibat hidangan MBG ini menelanjangi celah pengawasan kualitas pangan dapur penyedia di berbagai daerah secara beruntun.

Sebanyak 730 warga terdampak di Kabupaten Sidoarjo usai mengonsumsi santapan MBG pada Selasa (01/09).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengonfirmasi pada Kamis (03/09) bahwa 706 korban di antaranya telah dipulangkan untuk berobat jalan.

Mayoritas penderita merupakan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, serta sejumlah siswa sekolah sekitar.

Gugus kasus lain muncul di Kabupaten Agam dengan 276 korban yang terdiri atas siswa SD hingga SMA serta jajaran guru.

Pemerintah daerah setempat langsung bertindak tegas memutus distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh.

Kasus serupa juga menjangkiti Bener Meriah, Aceh, ketika 15 murid SD dan seorang kepala sekolah terpaksa dilarikan ke Puskesmas Lampahan pada Rabu (2/9/2026).

Para penderita melaporkan timbulnya reaksi fisik berupa pusing, mual, gatal-gatal, sampai sesak napas seusai melahap sajian program tersebut.

Kabupaten Rembang mencatatkan angka terdampak terbesar mencapai 777 jiwa yang berasal dari lingkungan SMAN 1 Lasem.

Gejala gangguan pencernaan seperti muntah, nyeri perut, dan diare hebat melanda ratusan siswa serta guru sejak Rabu (2/9) malam hingga Kamis (3/9) pagi.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, menjelaskan bahwa konsumsi hidangan nasi, ayam bakar, sambal teri, tempe goreng, dan lalapan buatan SPPG Desa Soditan dimulai pada Rabu siang pukul 12.00 WIB.

Kondisi mendadak memburuk pada Kamis pagi saat ratusan murid berebut memakai fasilitas kamar mandi sekolah.

“Diare dan bergantian masuk toilet. Total ada 40 toilet sehingga tidak mampu menampung semuanya. Padahal malamnya sudah diare tapi baru laporan hari ini,” kata Juhartutik, dikutip dari BBC Internasional.

Pendataan internal sekolah mengidentifikasi sebanyak 752 murid beserta 25 guru mengalami kesakitan mendadak.

“752 siswa dan 25 guru SMAN 1 Lasem diare,” ujar Juhartutik.

Pihak sekolah segera memanggil tim medis Puskesmas Lasem untuk mengevakuasi korban menggunakan ambulans.

“Ditindaklanjuti dengan didatangkan tenaga kesehatan dan ambulans,” kata Juhartutik.

Langkah darurat diambil dengan memulangkan 1.174 murid serta 95 staf sekolah pada pukul 08.30 WIB sembari meliburkan siswa terdampak.

“Kami juga meminta orangtua murid untuk terus memantau kondisi kesehatan anak, jika sakit dibawa ke puskesmas atau rumah sakit. Biaya penanganan medis ditanggung pemerintah,” kata Juhartutik.

Manajemen sekolah merespons cepat dengan memanggil pengelola dapur penyedia untuk meminta pertanggungjawaban atas insiden kelam ini.

“Pihak SPPG sudah kami hubungi dan datang ke sekolah untuk bertanggung jawab,” tambahnya.

Orang tua murid bernama Sunarsih membeberkan bahwa anaknya langsung menunjukkan reaksi mual dan diare sewaktu tiba di rumah pada Rabu sore.

“Namun saat ini sudah membaik,” kata Sunarsih.

Kepala Puskesmas Lasem, dr Joko Paryanto, merinci ada 21 murid masuk pemeriksaan UGD dengan indikasi klinis keracunan makanan.

“17 siswa boleh pulang rawat jalan dan empat siswa rawat inap. Semua kondisinya baik dan tertangani dengan baik,” terang Joko.

Pihak SPPG Soditan Lasem melalui Kepala SPPG, Achmad Sholeh Syarifudin, menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada seluruh pemangku kepentingan sekolah.

“Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak sekolah, orang tua, dan para siswa. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan penanganan medis berjalan optimal tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada korban,” kata Achmad.

Pihaknya berjanji menanggung penuh seluruh ongkos pengobatan korban hingga pulih total dari gangguan kesehatan tersebut.

“Semua pengobatan kami pastikan gratis dan dicover total. Kami bertanggung jawab penuh atas pemulihan kesehatan para siswa dan guru,” jelas Achmad.

Evaluasi total kini diberlakukan terhadap seluruh jalur masak dan tata kelola operasional di dapur penyedia SPPG Soditan Lasem.

Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 152 warga dari dua sekolah menengah pertama terpaksa dilarikan ke tiga rumah sakit di Kota Makale pada Kamis (03/09).

Para siswa SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale jatuh sakit usai menyantap makanan pasokan SPPG Batupapan pada Rabu (02/09).

Kepala SMPN 1 Makale, Yohanis Pakiding, membenarkan jajarannya melarikan para korban ke fasilitas kesehatan akibat krisis pencernaan massal.

“Karena sudah massal, sudah antre di WC, maka kami ambil tindakan secepatnya menghubungi rumah sakit dan puskesmas,” ungkap Yohanis kepada wartawan Jufri Tonapa yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Paket makanan berisi nasi, ayam masak air, perkedel, serta sayur tumis tiba di sekolah sekitar pukul 11.00 WITA dan sempat diperiksa petugas internal.

Namun, wali murid melaporkan temuan mengejutkan bahwa hidangan tersebut ternyata sudah berlendir, berbau amis, serta berdaging ayam mentah.

Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeq, memimpin pemantauan langsung terhadap penanganan korban di RSUD Lakipadada.

“Saya sudah sampaikan kepada semua pimpinan rumah sakit, bahwa ini harus segera ditangani sesegera dan seoptimal mungkin sesuai dengan SOP yang ada di rumah sakit,” kata Zadrak.

Seluruh puskesmas dan tenaga medis di wilayah Makale telah dimobilisasi penuh untuk mengatasi darurat kesehatan anak-anak sekolah ini.

Isu keracunan MBG menjadi sorotan publik luas karena menyangkut standar keselamatan pangan nasional dalam skala besar.

Apalagi pihak kepolisian maupun otoritas terkait hingga saat ini belum menetapkan satu pun pihak sebagai tersangka atas kejadian kelam tersebut.

Sikap tegas ditunjukkan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, yang siap melempar penanganan kasus ini ke jalur hukum.

“Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu,” tegas Sudaryono.

Artikel terkait lainnya