DEMOCRAZY.ID – Petisi yang mendesak pembubaran organisasi kemasyarakatan GRIB Jaya muncul di platform Change.org pada Senin (31/8/2026).
Petisi tersebut dibuat sehari sebelumnya, Minggu (30/8/2026), oleh akun bernama Want Safe Home dan telah mendapatkan ribuan dukungan dari masyarakat.
Pembuat petisi menilai GRIB Jaya perlu dibubarkan karena dianggap terlibat dalam kericuhan yang terjadi setelah demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026).
Dalam petisinya, pembuat menuding sejumlah anggota GRIB Jaya melakukan tindakan kekerasan terhadap beberapa orang ketika kericuhan berlangsung.
Petisi tersebut juga mengaitkan GRIB Jaya dengan kematian Bambang Setiawan, seorang penjual cermin berusia 60 tahun yang tewas di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Selain itu, petisi turut menyoroti tudingan mengenai rekam jejak GRIB Jaya yang disebut pernah dikaitkan dengan intimidasi, kekerasan, serta pelanggaran hukum.
Melalui petisi tersebut, pemerintah dan kepolisian didesak mengambil langkah terhadap GRIB Jaya guna menciptakan rasa aman bagi masyarakat.
Hingga Selasa (1/9/2026), petisi yang diunggah di Change.org itu tercatat telah ditandatangani oleh 18.364 orang.
👇👇
HUKUM BUKAN MILIK PREMAN,
RAKYAT SUDAH MUAK!
Petisi Bubarkan Ormas GRIB Jaya Tembus Belasan Ribu Tanda Tangan! 🔥Petisi bubarkan GRIB Jaya sudah 18.929 tanda tangan.
Usai kericuhan pasca demo DPR, banyak yang minta ormas ini dibubarkan.Tandatangani di sini: 👇… https://t.co/TPUhzQbw6b pic.twitter.com/lsi4u6xUFV
— Ochi Beauty Queen (@Ochi_Queen09_1) September 1, 2026
Di sisi lain, politisi Ferdinand Hutahaean menyoroti kemunculan sekelompok massa berikat kepala yang datang menggunakan truk pascademo di Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026) malam.
Kelompok tersebut disebut-sebut berkaitan dengan GRIB Jaya pimpinan Hercules.
Melalui unggahan di Instagram pribadinya pada Minggu (30/8/2026), Ferdinand menilai kemunculan kelompok tersebut tidak dapat dilepaskan dari situasi demonstrasi yang diwarnai ketegangan dan dugaan tindakan anarkis.
Ferdinand mengatakan, ketika ada kelompok masyarakat yang tidak menyukai pemerintah, di sisi lain akan ada pula kelompok yang mencintai dan ingin mempertahankan pemerintah.
Ia menyebut wajar apabila terdapat kelompok masyarakat yang ingin mempertahankan pemerintah ketika ada pihak lain yang menginginkan kejatuhan pemerintahan.
Ferdinand bahkan menyebut massa tersebut sebagai kelompok masyarakat yang mencintai Jakarta dan tidak ingin ibu kota dibuat kacau oleh pihak yang menunggangi aksi demonstrasi.
“Siapapun kelompok ini, bagi saya mereka adalah kelompok masyarakat yang mencintai kota ini dan tidak ingin kota ini dibuat kacau oleh para anarkis,” jelasnya.
Meski demikian, Ferdinand menegaskan bahwa tindakan kekerasan tetap tidak dapat dibenarkan, baik yang dilakukan oleh massa tersebut maupun pihak lain dalam aksi demonstrasi.